JAVASATU.COM- Presiden Prabowo Subianto memimpin Panen Raya TNI Terintegrasi yang digelar serentak di 43 titik di Indonesia dari Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jumat (17/7/2026). Dalam kesempatan itu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan Jawa Timur menjadi pilar utama ketahanan pangan nasional dengan menyumbang sekitar 51 persen produksi gula nasional serta menjadi salah satu lumbung padi terbesar di Indonesia.

Panen raya di Lanud Abdulrachman Saleh dipusatkan pada komoditas tebu sebagai kontribusi TNI Angkatan Udara dalam mendukung target swasembada gula. Sementara TNI Angkatan Darat mengembangkan padi dan TNI Angkatan Laut mengembangkan kedelai.
“Jawa Timur merupakan produsen gula terbesar di Indonesia. Kepercayaan menjadikan Malang sebagai lokasi panen raya merupakan amanah bagi kami untuk terus meningkatkan produktivitas dan memperkuat kontribusi terhadap ketahanan pangan nasional,” kata Khofifah.
Khofifah mengungkapkan, sektor pergulaan Jawa Timur mencatat capaian tertinggi dalam satu dekade terakhir. Pada 2025, produksi gula kristal putih mencapai sekitar 1,34 juta ton atau sekitar 51 persen dari total produksi gula nasional.
Selain itu, Jawa Timur juga terus memperkuat pengembangan sektor tebu. Pada 2026, pemerintah pusat memberikan kepercayaan kepada Jawa Timur untuk melaksanakan Program Bongkar Ratoon seluas 48.315 hektare dan Program Perluasan Areal Tebu seluas 6.582 hektare. Total pengembangan mencapai 54.897 hektare yang tersebar di 24 kabupaten sentra tebu.
“Kepercayaan ini menjadi kehormatan sekaligus amanah bagi Jawa Timur untuk terus meningkatkan produktivitas, memperkuat kolaborasi, dan menghadirkan inovasi agar kontribusi kami terhadap ketahanan pangan nasional semakin besar,” ujarnya.
Tak hanya di sektor gula, Jawa Timur juga mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung padi nasional. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas panen padi di Jawa Timur sepanjang 2025 mencapai 1,84 juta hektare, naik 13,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Produksi padi juga meningkat menjadi sekitar 10,44 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara sekitar 6,03 juta ton beras, sehingga semakin memperkuat peran Jawa Timur dalam menjaga pasokan pangan nasional.
“Capaian ini merupakan hasil sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, penyuluh pertanian, dan para petani melalui optimalisasi pola tanam, penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, hingga pendampingan berkelanjutan,” ujar Khofifah.
Menurut Khofifah, keberhasilan meningkatkan produksi gula, padi, dan kedelai membuktikan bahwa ketahanan pangan hanya dapat dibangun melalui kolaborasi lintas sektor.
Ia juga mengapresiasi keterlibatan TNI yang tidak hanya menjalankan tugas pertahanan negara, tetapi juga aktif mendampingi petani melalui pemanfaatan lahan produktif dan penguatan sektor pertanian.
“Semangat gotong royong yang ditunjukkan TNI bersama masyarakat dalam panen raya ini menjadi contoh nyata bahwa membangun ketahanan pangan merupakan tugas bersama,” katanya.
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto menegaskan Panen Raya TNI Terintegrasi menjadi bukti bahwa ketahanan pangan merupakan gerakan nasional yang membutuhkan keterlibatan seluruh komponen bangsa.
“Saya ucapkan selamat atas terselenggaranya panen raya terintegrasi di 43 titik seluruh Indonesia. Kegiatan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan hanya urusan Kementerian Pertanian, tetapi merupakan gerakan nasional yang melibatkan seluruh kekuatan bangsa,” ujar Prabowo.
Presiden mengajak seluruh elemen bangsa terus memperkuat kolaborasi untuk mewujudkan Indonesia yang mandiri dan berdaulat di bidang pangan.
“Indonesia akan menjadi negara yang makmur. Kita ingin menjadi bangsa yang bangkit. Kekuatan dan kesejahteraan masyarakat menjadi pertahanan yang kuat bagi suatu bangsa,” pungkasnya. (dop/arf)