JAVASATU.COM- Safari Ramadan yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Gresik menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan jihad melawan hawa nafsu. Pesan itu disampaikan dalam tausyiah di Langgar Darussalam, Trate, Gresik, Senin (23/2/2026).

Tausyiah disampaikan Ustaz Muntadhim Muttaqwa, anggota MUI sekaligus Sekretaris Kecamatan Gresik. Ia menekankan bahwa Ramadan merupakan momentum perjuangan spiritual yang menuntut keikhlasan dan pengendalian diri.
Menurutnya, dalam sejarah Islam, ibadah puasa tidak menjadi penghalang aktivitas maupun perjuangan. Ia mencontohkan peristiwa Perang Badar yang terjadi pada bulan Ramadan, saat kaum Muslimin menghadapi pasukan Quraisy dengan kekuatan lebih besar namun tetap meraih kemenangan.
“Jihad terbesar bukan hanya di medan perang, tetapi melawan hawa nafsu. Puasa adalah salah satu cara menundukkan nafsu,” ujarnya di hadapan jemaah.
Ia mengingatkan, banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga karena tidak mampu menjaga sikap dan perilaku. Karena itu, puasa harus dijalankan dengan kesadaran bahwa setiap perbuatan diawasi Allah SWT.
Selain membentuk keikhlasan, puasa juga melatih kedisiplinan waktu, terutama dalam menjaga salat lima waktu. Tak hanya itu, puasa turut menumbuhkan empati sosial karena umat Islam merasakan langsung kondisi lapar dan dahaga seperti yang dialami kaum kurang mampu.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyinggung manfaat kesehatan dari puasa, seperti membantu menjaga daya tahan tubuh dan mengontrol kadar kolesterol.
Safari Ramadan MUI Kecamatan Gresik ini menjadi bagian dari pembinaan umat selama bulan suci, sekaligus memperkuat silaturahmi antara ulama dan masyarakat. MUI berharap Ramadan dimaknai sebagai momentum memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah. (bas/arf)