email: javasatu888@gmail.com
  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI
Javasatu.com
Kamis, 19 Februari 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

In Memoriam Azyumardi Azra, Dari Penulis Entrepreneur ke Negosiasi Syariah Islam

by Syaiful Arif
20 September 2022

In Memoriam Azyumardi Azra, Dari Penulis Entrepreneur ke Negosiasi Syariah Islam

Oleh: Denny JA

(Kiriman: Akaha Taufan Aminudin, Koordinator Persatuan Penulis Indonesia, Satupena Jawa Timur Indonesia)

“Di era ini, menjadi penulis, peneliti ataupun intelektual, kita juga harus memiliki usaha lain, Bro.

Jika tidak, desakan ekonomi dapat membuat kita melakukan tindakan yang merusak integritas diri dan keilmuan kita. Padahal mungkin uang yang ia ambil itu tak seberapa.”

Itu teks Azyumardi Azra di Whatsapp saya sekitar sebulan lalu. Saat itu, Azyumardi merespon prilaku teman yang kami kenal berdua.

Teks ini pula yang pertama saya ingat lagi ketika mendengar wafatnya Azyumardi Azra.

Sejak Agustus 2021, hubungan saya denganya lebih intens. Saya ketua umum Perkumpulan Penulis Indonesia Satupena. Azyumardi menjadi anggota Dewan Penasehat Satupena.

BacaJuga :

OPINI: Nisfu Sya’ban dan Isu “Blackout”, Cahaya Doa di Tengah Gelapnya Kepanikan Publik

OPINI: Hari Lahir NU, Etika Kepemimpinan di Tengah Sorotan Kasus Hogi Minaya

Saya mengenal Azyumardi sudah sejak tahun 1986. Itu sudah 36 tahun lalu. Kami sering berjumpa ketika sedang mengambil honor tulisan di Kompas atau di media lain.

Tapi hubungan kami tak pernah benar- benar dekat. Kami hanya saling menyapa saja dan bertukar kabar. Kontak kami lebih sering dan lebih dalam sejak sama sama mengurus perkumpulan penulis Indonesia Satupena.

Dari sesama kawan di Satupena, saya dapat kabar. “Bang Denny, saya sedih. Prof Azyumardi kena covid serius. Ia ke Malaysia dan dirawat di sana. Ia sekarang ditidurkan.”

Lalu di WAG Dewan Penasehat Satupena, saya juga mendapat kabar serupa.

Saya merespon membesarkan hati. “Jika Azyumardi sudah di booster (vaksin 3 kali), paling butuh waktu 5-10 hari untuk sembuh kembali.”

Lalu di WAG Dewan Penasehat Satupena, Ilham Bintang memposting tulisan soal kondisi Azyumardi Azra.

Tapi ini kisahnya lebih detail dan lebih mencemaskan. Tulis Ilham Bintang, mengutip saksi mata:

Di pesawat ke Malaysia, Azyumardi sesak nafas. Ia keluar keringat. Badannya mengigil. Sejak di pesawat, ia sudah diberikan bantuan pernafasan.

Turun dari pesawat di Malysia, ia langsung dibawa ke rumah sakit.

“Wah,” ujar saya dalam hati. “Ini lebih serius dibandingkan yang saya duga.”

Sayapun japri ke Ilham Bintang: “Bro, apakah Azyumardi punya komorbid yang dapat membuat Covidnya berisiko?”

Jawab Ilham Bintang: “Nggak begitu jelas, tapi serangan Covid19 yang dia alami cukup keras. Sampai ditidurkan dan memakai ventilator. Lazim dialami orang yang punya komorbid.”

Hari ini, sejak pagi saya ada acara untuk dua anak saya yang segera pergi sekolah ke London. Entah mengapa, bayangan Azyumardi selalu melintas.

Ketika ada waktu saya membuka WA, berita itu pun datang. Azyumardi Azra telah pergi.


Banyak hal yang saya ingat tentang Azyumardi Azra. Tapi dua isu ini lebih berkesan. Itu karena Azyumardi langsung yang merespon.

Pertama, ketika Azyumardi membaca berita. Saat itu saya membuka usaha. Saya beli banyak tempat kos- kosan, dan saya ubah menjadi hotel budget.

Saya membaca data dunia. Juga data di Indonesia. Rata- rata prosentase kenaikan harga properti melampaui prosentase kenaikan gaji.

Ini membuat makin banyak publik Indonesia tak bisa memiliki rumah. Dengan sendirinya kebutuhan akan kos- kosan semakin kuat.

Membaca data itu menambah motivasi saya membeli banyak tempat kos- kosan di pusat kota.

Tapi, agar kos- kosannya lebih efisien, ia bisa diubah menjadi hotel budget. Mereka dapat menyewa kamar harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan.

Total sewa 30 harian hotel akan lebih besar dibanding sebulan kos- kosan untuk kondisi kamar yang sama.

Usaha saya ini menjadi berita karena saya bekerja sama dengan pemilik aplikasi Zen Room. Usaha ini diframing sebagai bisnis baru di era digital karena mengelola hotel melalui aplikasi seperti Gojek dan Gofood.

Azyumardi menelfon saya. Ia menceritakan dirinya juga punya banyak kos- kosan.

Saya tanya apakah ia juga berminat mengubahnya menjadi hotel budget? Ia katakan tak punya waktu dan skill mengurusnya. Kos- kosan sekarang sudah cukup baginya.

Kamipun berdiskusi zaman yang berubah. Dulu intelektual cukup menjadi penulis, peneliti atau dosen saja. Tapi sekarang harus juga menjadi intelektual entrepeneur. Harus pula punya usaha di luar dunia penulisan, penelitian dan pengajaran.


Hal kedua yang saya ingat soal syariah Islam. Saya membuat tulisan di tahun 2019; Syariah Islam atau Ruang Publik Yang Manusiawi?

Saat itu saya merespon gerakan NKRI bersyariat. Saya mengeksplorasi yang mana yang lebih penting Menerapkan syariat Islam dengan menggunakan tangan negara? Atau menciptakan ruang publik yang manusiawi saja?

Bahkan dengan ukuran Islamicity Index, indeks nilai islami, negara yang pencapaiannya paling sesuai dengan nilai islami justru bukan negara Islam. Tapi itu justru terjadi di negara Eropa seperti Negara Skandinavia.

Itu negara yang bahkan tak menganggap agama itu penting. Tapi mereka menjalankan saja apa yg dianggap manusiawi seperti kebijakan yang membawa kepada kesejahteraan, kebebasan, genereousity, pemerintahan yang bersih.

Azyumardi membuat tulisan khusus membahas ini. Ia mengutip pandangan guru besar Emory University, Atlanta, Abdullahi Ahmed an-Naim.

Naim menulis buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: Islam dan Negara Sekular: Menegosiasikan Masa Depan Syariah (Bandung: Mizan, 2007).

Menurut Naim; Syariah itu dapat dijalankan oleh penganut Islam. Tetapi bukan melalui penerapan prinsip-prinsipnya secara paksa oleh kekuatan negara.

Syariat Islam hanya baik jika dijalankan secara sukarela oleh para penganutnya.

Di negara Indonesia, dalam kerangka keberagaman, toh syariah Islam, sebagaimana juga prinsip agama lain, sudah bebas dijalankan oleh masing- masing.

NKRI bersyariah itu bertentangan dengan prinsip di atas karena ingin menegakkan syariat Islam dengan menggunakan tangan negara.


Bercakap dengan Azyurmardi Azra itu seperti tour ke dunia perpustakaan. Ia menguasai dan menjalankan bidang pengetahuan yang luas, dari dunia penulis, peneliti, dosen, penasehat politik, agama hingga entrepreneurship.

Saya pribadi kehilangan teman yang sportif dan cendikia.

Perkumpulan Penulis Satupena Indonesia kehilangan anggota Dewan Penasehat, satu senior yang kuat keilmuan dan integritas pribadinya.

Selamat jalan Azyumardi Azra. Selamat jalan senior.*


CATATAN:

(1). Soal Islamicity Index

https://e-journal.metrouniv.ac.id › vi…Islamicity Indices: A Moral Compass for Reform and …

(2) Tulisan Azyumardi Azra menanggapi esai Denny JA

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=pfbid02x9fsaqrTVrLbk4kbYDZ1oMTwiuYQc4r48y4h2oKH13ywnDtCLB46PMe9g8HZAh4ol&id=322283467867809


Drs. Akaha Taufan Aminudin

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: AkahaDenny JASatupena

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Truk Hantam 4 Kendaraan di Jalan Pattimura Batu, Satu Ojol Tewas

Jatim Half Marathon Batal, 1.268 Pelari Merugi Rp 383 Juta

Warga Nahdliyin Tebuwung Megengan Sambut Ramadan

Sengketa Lahan WTP dan Supit Urang Malang Diseret ke Ombudsman hingga KPK

MUI Kecamatan Gresik Temui Camat, Bahas Program Ramadan hingga Perkuat Sinergi

DLHKP Kota Kediri Bersihkan Cagar Budaya Jembatan Lama dari Tumpukan Sampah

Ananda Sukarlan: Musik Bikin Dunia Lebih Masuk Akal di Hari Asperger 2026

Wajib Tahu, Berikut Aturan Ramadan 2026 di Kota Malang

Aula KH Hasyim Asy’ari MWCNU Dukun Kebanjiran Order

Perumda Tugu Tirta Dukung Pengembangan Sepak Bola Usia Dini

Prev Next

POPULER HARI INI

Truk Hantam 4 Kendaraan di Jalan Pattimura Batu, Satu Ojol Tewas

MUI Kecamatan Gresik Temui Camat, Bahas Program Ramadan hingga Perkuat Sinergi

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Perumda Tugu Tirta Dukung Pengembangan Sepak Bola Usia Dini

Jatim Half Marathon Batal, 1.268 Pelari Merugi Rp 383 Juta

BERITA LAINNYA

Jatim Half Marathon Batal, 1.268 Pelari Merugi Rp 383 Juta

DLHKP Kota Kediri Bersihkan Cagar Budaya Jembatan Lama dari Tumpukan Sampah

Ananda Sukarlan: Musik Bikin Dunia Lebih Masuk Akal di Hari Asperger 2026

GIBM Buka Rekrutmen Nasional, Ormas Anti-Korupsi dari Blitar

Hilal Tak Terlihat di Pasuruan, 1 Ramadan 2026 Jatuh pada 19 Februari

Polda Jateng Perketat Pengamanan Imlek 2026 Lewat KRYD

Prof Ahmad Barizi Dorong Pesantren Sumenep Cetak Muslim Kamil di Era Digital

Kapolri Copot Eks Kapolres Bima Terkait Narkoba Diapresiasi Publik

Halimah Munawir Dorong Diplomasi Seni Indonesia-Mesir

Jalur Pantura Pemalang-Tegal Tergenang Air, Polisi Turun Tangan Atur Lalin

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

Yayasan Diduga Lakukan Kecurangan, Warga Demo SPPG Bandar Lor Kediri

Truk Hantam 4 Kendaraan di Jalan Pattimura Batu, Satu Ojol Tewas

Sejumlah Cabor Keluhkan Anggaran Minim, Dukung Darmadi Pimpin KONI Kabupaten Malang

DPRD Kabupaten Malang Tantang DPKPCK Tunjukkan Legalitas Syarat Tambahan Site Plan

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI

© 2026 Javasatu. All Right Reserved