email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Kamis, 20 Agustus 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

OPINI: Maraknya Verbal Suku Kata “Cuk” di Kalangan Pelajar

by Javasatu
28 Oktober 2025
Imam S.A.R – Pemerhati Pendidikan. (Foto: Dok. Pribadi)

OPINI

Maraknya Verbal Suku Kata “Cuk” di Kalangan Pelajar

Oleh: Imam S.A.R – Pemerhati Pendidikan

Di era modern yang serba canggih seperti sekarang, teknologi telah menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Kemajuan ini membawa dampak besar pada pola pikir, sikap, serta gaya hidup masyarakat, baik dari sisi positif maupun negatif. Sayangnya, di tengah derasnya arus digitalisasi, kita justru semakin sering menjumpai perilaku dan kebiasaan berbahasa yang tidak pantas, terutama di kalangan pelajar.

Bahasa dan Krisis Etika Verbal

Perkembangan bahasa pada anak dan remaja seharusnya menjadi indikator kematangan berpikir dan berperilaku. Namun, kini justru muncul fenomena gangguan dalam penggunaan bahasa verbal di lingkungan sosial, termasuk di sekolah. Banyak anak yang mulai terbiasa menggunakan kata atau ungkapan yang kasar dan tidak sopan, bahkan dalam situasi formal.

Salah satu contoh yang paling sering terdengar adalah penggunaan suku kata “Cuk”, yang merupakan potongan dari kata “Jancuk”. Kata ini kini kerap diucapkan oleh pelajar, tanpa memandang tempat, waktu, atau kepada siapa mereka berbicara. Ironisnya, kata tersebut kini terdengar seolah menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari.

Dulu, generasi sebelum tahun 2000-an akan berpikir dua kali untuk mengucapkan kata semacam itu, karena bisa dianggap sangat tidak sopan dan berakibat pada hukuman dari orang tua. Namun, pada generasi saat ini, kata “Cuk” justru seolah menjadi bahasa gaul yang lumrah, bahkan digunakan dalam percakapan dengan orang yang lebih tua.

Normalisasi Kata Kasar di Kalangan Remaja

Fenomena ini makin terasa di ruang-ruang publik. Di sekolah, di tempat bermain, bahkan saat anak-anak bermain game online, kata “Cuk” sering kali meluncur begitu saja. Ketika kalah bermain, kesal, bercanda dengan teman, atau bahkan saat melakukan kesalahan kecil, kata itu menjadi ekspresi spontan.
Padahal, kebiasaan semacam ini bisa berdampak pada pembentukan karakter dan etika komunikasi anak di masa depan.

Menurut catatan Wikipedia, istilah “jancuk, jancok, diancok, cuk, atau cok” bermakna “sialan, keparat, brengsek”, sebuah ungkapan untuk mengekspresikan kekecewaan atau keheranan. Meskipun di beberapa daerah Jawa Timur kata ini mengalami pergeseran makna (ameliorasi) dan digunakan sebagai bentuk keakraban, tetap saja dalam konteks umum, kata tersebut memiliki konotasi negatif dan tidak pantas diucapkan secara terbuka, apalagi oleh anak usia sekolah.

Dampak Bahasa terhadap Perkembangan Anak

Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cerminan kepribadian. Ketika anak terbiasa menggunakan kata kasar, hal itu bisa memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi sosial. Jika tidak dikendalikan sejak dini, kebiasaan berbahasa yang buruk dapat berdampak pada perilaku, psikologi sosial, dan kemampuan beradaptasi anak di lingkungan sekitar.

Orang tua dan guru memiliki peran penting dalam membimbing anak agar memahami batas antara bahasa ekspresif dan bahasa yang pantas. Anak-anak perlu diajak memahami bahwa berbicara dengan sopan tidak berarti ketinggalan zaman, justru mencerminkan kecerdasan dan kematangan moral.

Menanamkan Etika Berbahasa Sejak Dini

Dalam ajaran Islam, akhlak yang baik menjadi tolok ukur utama keimanan seseorang. Sebagaimana hadits riwayat At-Tirmidzi nomor 2002:

BacaJuga :

OPINI: Malang Raya Megapolitan, Dari Fragmentasi Menuju Integrasi Kawasan

OPINI: Transfer Pengetahuan BUMN: Belajar Tak Sekadar Meniru

“Tidak ada sesuatu pun yang paling berat dalam timbangan kebaikan seorang mukmin pada hari kiamat seperti akhlak yang mulia. Sesungguhnya Allah membenci orang yang lisannya kotor dan kasar.”

Nilai-nilai ini bisa menjadi dasar untuk membiasakan anak memilih diksi yang baik. Saat mendapat musibah, ucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Saat bersyukur, ucapkan “Alhamdulillah.” Saat kagum, “Subhanallah” atau “Masya Allah.” Banyak kata indah dalam bahasa Indonesia maupun bahasa agama yang bisa menggantikan umpatan kasar.

Menjaga Lisan, Menjaga Martabat

Memasuki Bulan Bahasa 2025, penting bagi kita untuk merefleksikan kembali nilai luhur dalam berbahasa. Pepatah Jawa mengatakan:

“Ajining diri soko lathi, ajining raga soko busana,”. Artinya, kehormatan diri seseorang diukur dari tutur katanya, dan harga diri dari penampilannya.

Mari kita biasakan anak-anak berbicara dengan sopan, santun, dan penuh rasa hormat. Karena dari lisan yang terjaga, akan lahir generasi yang beradab, berkarakter, dan siap menyongsong Indonesia Emas dengan martabat yang tinggi. (*)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: Opini

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Panglima TNI Pesan 76 Paskibraka 2026 Kejar Cita-cita Setinggi Langit

Baru 3 Bulan Bebas Penjara, Residivis Gresik Kembali Terjerat Judol dan Sabu

Rani Jambak Demo Lewat Musik, LARA(NGAN) Suarakan Kegelisahan Negeri

Tokoh Budaya Majalengka H Baya Berduka, Ki Danu Tewas Dibunuh Tetangga di Tasikmalaya

Perda Disabilitas Gresik Diperkuat, Pelayanan Publik Diminta Lebih Inklusif

Polisi di Kabupaten Malang Ikut Kejar Swasembada Bawang Putih

Bakorwil Malang: Panen Bawang Putih Wagir Disiapkan Jadi Benih

Analis: Komitmen Kapolri Dukung Asta Cita Sudah On The Track, Swasembada Bawang Putih hingga Rekor MURI

DPRD Majalengka Siapkan Aturan Perketat Pengawasan Proyek Infrastruktur

5 Kriteria Cat Tembok yang Bagus untuk Interior, Anti Jamur hingga Tahan Gesekan

Prev Next

POPULER HARI INI

5 Kriteria Cat Tembok yang Bagus untuk Interior, Anti Jamur hingga Tahan Gesekan

Tokoh Budaya Majalengka H Baya Berduka, Ki Danu Tewas Dibunuh Tetangga di Tasikmalaya

DPRD Majalengka Siapkan Aturan Perketat Pengawasan Proyek Infrastruktur

Analis: Komitmen Kapolri Dukung Asta Cita Sudah On The Track, Swasembada Bawang Putih hingga Rekor MURI

Rani Jambak Demo Lewat Musik, LARA(NGAN) Suarakan Kegelisahan Negeri

BERITA LAINNYA

Panglima TNI Pesan 76 Paskibraka 2026 Kejar Cita-cita Setinggi Langit

Baru 3 Bulan Bebas Penjara, Residivis Gresik Kembali Terjerat Judol dan Sabu

Rani Jambak Demo Lewat Musik, LARA(NGAN) Suarakan Kegelisahan Negeri

Tokoh Budaya Majalengka H Baya Berduka, Ki Danu Tewas Dibunuh Tetangga di Tasikmalaya

Perda Disabilitas Gresik Diperkuat, Pelayanan Publik Diminta Lebih Inklusif

Polisi di Kabupaten Malang Ikut Kejar Swasembada Bawang Putih

Bakorwil Malang: Panen Bawang Putih Wagir Disiapkan Jadi Benih

Analis: Komitmen Kapolri Dukung Asta Cita Sudah On The Track, Swasembada Bawang Putih hingga Rekor MURI

DPRD Majalengka Siapkan Aturan Perketat Pengawasan Proyek Infrastruktur

5 Kriteria Cat Tembok yang Bagus untuk Interior, Anti Jamur hingga Tahan Gesekan

Prev Next

POPULER MINGGU INI

39 Warga Ciptomulyo Resah, Tanahnya Diklaim Aset Pemkot Malang

Proyek Irigasi Molek Malang Rp99 Miliar Disorot, K3 dan Transparansi Dipertanyakan

Perjusa SD Sunan Giri Ngebruk Malang Latih Kemandirian Siswa di HUT ke-65 Pramuka

Rute, Tarif dan Jam Operasional Trans Jatim Malang Raya

5 Kriteria Cat Tembok yang Bagus untuk Interior, Anti Jamur hingga Tahan Gesekan

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved