JAVASATU.COM- Pianis sekaligus akademisi musik, Dr. Edy Panjaitan, mempresentasikan riset tentang musik piano Indonesia dalam konferensi bergengsi American Musicological Society (AMS) di New York University, New York City, Amerika Serikat, pada Sabtu (9/5/2026).

Dalam forum ilmiah internasional tersebut, Edy mengangkat kajian utama tentang karya komponis Indonesia Ananda Sukarlan, khususnya rangkaian Rapsodia Nusantara yang dinilai sebagai representasi penting musik piano kontemporer Indonesia di panggung global.
“Ananda Sukarlan diakui sebagai salah satu pianis-komposer paling berpengaruh di Indonesia, yang kontribusinya telah secara signifikan membentuk musik klasik kontemporer dan pendidikan musik baik secara nasional maupun internasional. Di antara karya-karya terpentingnya adalah rangkaian lengkap Rapsodia Nusantara, kumpulan 44 komposisi piano yang menunjukkan sintesis luar biasa antara idiom musik Indonesia dan tradisi klasik Barat,” ujar Edy dalam pemaparannya di AMS.
AMS sendiri merupakan organisasi nirlaba yang berdiri sejak 1934 dan kini beranggotakan sekitar 3.000 akademisi musik dari lebih dari 40 negara. Konferensi ini digelar di New York University dan menjadi salah satu forum akademik musik paling bergengsi di dunia.
Edy menjelaskan, risetnya menyoroti bagaimana Rapsodia Nusantara tidak hanya berfungsi sebagai karya seni, tetapi juga sebagai bentuk nasionalisme musikal yang menggabungkan teknik virtuoso piano dengan identitas budaya Indonesia dalam kerangka musik klasik global.
“Saya berpendapat bahwa Rapsodia Nusantara mewakili bentuk nasionalisme pianistik di mana teknik virtuoso dan desain komposisi berfungsi sebagai strategi estetika untuk mengubah repertoar musik Indonesia menjadi literatur piano klasik global,” kata Edy.
Ia menambahkan, pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana unsur musik tradisional Indonesia dapat diolah dalam struktur pianistik Barat tanpa kehilangan identitas budaya aslinya.
“Penelitian ini berfokus pada pendekatan estetika Sukarlan, mengeksplorasi baik teknik pianistik maupun dimensi komposisi yang mendefinisikan siklus tersebut,” lanjutnya.
Selain riset tentang musik piano, Edy juga meneliti etnomusikologi Batak Toba melalui studi ritual penggalian tulang leluhur di Sianjur Mulamula dengan fokus pada musik gondang sabangunan. Penelitian tersebut merupakan bagian dari pendekatan etnografi hibrida yang ia lakukan selama studi doktoralnya.
Di sisi lain, Edy juga menerima Student Enhancement Award untuk riset tersebut serta sertifikat konduktor pascasarjana di bawah bimbingan Prof. Jose Rocha. Ia juga telah merilis album debut bertajuk Odyssey serta memperkenalkan karya etnik orisinal berjudul Bonapasogit dalam sejumlah festival musik internasional.
Dalam catatan akademiknya, Edy telah mendapat bimbingan dari sejumlah tokoh musik dunia, termasuk Lilya Zilberstein, Ewa Pobłocka, Rena Shereshevskaya, hingga Ananda Sukarlan.
Dalam unggahan Instagram pribadinya, Edy mengungkapkan rasa bangga dapat membawa risetnya ke forum internasional.
“I am deeply honored and excited to present my newest research, the complete set of 44 piano works from Rapsodia Nusantara… at this conference. The American Musicological Society Greater New York Chapter has been an inspiring and supportive community for both scholars and artists,” tulisnya.
Selain Edy, sejumlah akademisi dan musisi lain juga turut mempresentasikan riset mereka dalam konferensi tersebut, di antaranya Tristan Wilson (Detroit), Joseph S. Kaminski (College of Staten Island), Dr. Juliet Pascal Glazer (Boston College), MyungJin Oh (Rutgers University), dan Carol Kitzes Baron (SUNY Stony Brook).
Konferensi AMS di New York ini menjadi ruang pertemuan penting bagi akademisi musik dunia dalam membahas perkembangan musik klasik, etnomusikologi, hingga inovasi komposisi lintas budaya. (Lasman Simanjuntak/red)