JAVASATU.COM- Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Kota Malang, mulai membuka ruang lebih luas bagi santri untuk mengembangkan potensi di dunia esports. Tak sekadar hiburan, esports diarahkan menjadi bagian dari keterampilan digital yang bisa membawa santri meraih prestasi.

Komitmen tersebut terlihat dalam gelaran Garena Youth Championship Flash Peak 2026 di Ponpes Bahrul Maghfiroh, Sabtu (22/8/2026). Kompetisi ini mempertemukan pelajar SMP, SMA, dan SMK dari Malang Raya serta sejumlah daerah seperti Probolinggo, Lumajang dan Pasuruan.
Pengasuh Ponpes Bahrul Maghfiroh, Prof. KH M. Bisri, mengatakan pesantren ingin membekali santri dengan kemampuan yang sesuai dengan perkembangan zaman, termasuk keterampilan di bidang digital dan esports.
“Harapannya anak-anak ini, terutama anak-anak pondok, melek digital. Tahu AI, tahu di dalam digital ada kegiatan esports. Sehingga anak-anak ini menjadi salah satu hiburan, kalau perlu juga prestasi. Akidahnya kuat, ibadahnya kuat, tapi dia punya keterampilan atau skill tentang digital yaitu esports,” kata Prof. Bisri.
Menurut Prof Bisri, pesantren tidak ingin santri hanya menjadi pengguna teknologi. Santri juga perlu memahami dan mengembangkan potensi di dalam ekosistem digital agar memiliki bekal ketika terjun ke masyarakat.
“Jangan sampai anak-anak tidak dikenalkan. Begitu keluar, anak-anak nanti kena godaan tentang dunia medsos. Makanya hari ini dikenalkan dengan cara real, konkret, tidak hanya di lab tetapi ada lomba esports,” ujarnya.
Bahrul Maghfiroh sendiri telah memiliki laboratorium digital dan AI. Esports menjadi salah satu aktivitas yang dikenalkan sebagai bagian dari pengembangan keterampilan santri di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
Kompetisi Garena Youth Championship Flash Peak 2026 diikuti sekitar 400 peserta yang terbagi dalam puluhan tim. Peserta tidak hanya berasal dari Malang Raya, tetapi juga sejumlah daerah di Jawa Timur.
Dari sisi pembinaan olahraga, kegiatan tersebut mendapat perhatian KONI Kota Malang. Pengurus KONI Kota Malang Bidang Perencanaan Anggaran, Ir. H. Bambang Suharyadi, menyebut ajang seperti ini bisa menjadi tempat untuk menemukan bibit atlet esports yang berpotensi masuk pembinaan menuju Porprov Jawa Timur 2027.
“KONI saat ini menyiapkan atlet untuk Porprov ke-10 tahun 2027. Ini menjadi kesempatan untuk seleksi atlet-atlet yang disiapkan menuju Porprov 2027, khususnya cabang olahraga esports karena esports termasuk yang dipertandingkan,” kata Bambang.
Bambang menyebut berdasarkan data KONI, terdapat sekitar 70 atlet esports di Kota Malang. Namun, sebagian di antaranya belum banyak tampil dalam kompetisi.
“Dengan adanya kegiatan ini, harapannya bisa menampung seluruh atlet yang ada di Malang. Nanti kita poles untuk bisa menaikkan grade ke atlet nasional,” ujarnya.
Prestasi esports Kota Malang juga menjadi modal pembinaan. Pada 2025, atlet esports Kota Malang berhasil meraih juara pertama pada nomor pertandingan tertentu.
KONI kini menyiapkan proses pemantauan dan pembinaan atlet untuk menghadapi Porprov 2027. Peserta yang menunjukkan kemampuan sesuai standar nasional berpeluang masuk dalam proyeksi pembinaan.
“Kalau memang grade-nya sudah sesuai dengan standar nasional, kita akan tarik karena itu menjadi momentum untuk mendulang emas ke depan,” tegas Bambang.

Sementara itu, Seksi Peserta Didik dan Pembangunan Karakter Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang, Wahju Oriendriani, menilai penyelenggaraan esports di lingkungan pesantren menunjukkan lembaga pendidikan Islam mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Melaksanakan kejuaraan esports di lingkungan pesantren adalah bukti nyata bahwa pesantren hari ini sangat adaptif, modern dan tanggap terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai keagamaannya,” kata Wahju.
Ia mengingatkan para peserta agar menjadikan esports sebagai sarana mengembangkan kemampuan tanpa mengabaikan pendidikan, ibadah dan kewajiban sebagai pelajar.
“Junjung tinggi sportivitas. Menang dan kalah adalah hal biasa. Jaga keseimbangan, karena esports mengajarkan manajemen waktu. Jangan sampai kegemaran bermain mengabaikan kewajiban sebagai pelajar dan santri,” ujarnya, saat membuka kompetisi ini. (saf)