email: javasatu888@gmail.com
  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI
Javasatu.com
Kamis, 9 April 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

OPINI: Maraknya Verbal Suku Kata “Cuk” di Kalangan Pelajar

by Redaksi Javasatu
28 Oktober 2025
Imam S.A.R – Pemerhati Pendidikan. (Foto: Dok. Pribadi)

OPINI

Maraknya Verbal Suku Kata “Cuk” di Kalangan Pelajar

Oleh: Imam S.A.R – Pemerhati Pendidikan

Di era modern yang serba canggih seperti sekarang, teknologi telah menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Kemajuan ini membawa dampak besar pada pola pikir, sikap, serta gaya hidup masyarakat, baik dari sisi positif maupun negatif. Sayangnya, di tengah derasnya arus digitalisasi, kita justru semakin sering menjumpai perilaku dan kebiasaan berbahasa yang tidak pantas, terutama di kalangan pelajar.

Bahasa dan Krisis Etika Verbal

Perkembangan bahasa pada anak dan remaja seharusnya menjadi indikator kematangan berpikir dan berperilaku. Namun, kini justru muncul fenomena gangguan dalam penggunaan bahasa verbal di lingkungan sosial, termasuk di sekolah. Banyak anak yang mulai terbiasa menggunakan kata atau ungkapan yang kasar dan tidak sopan, bahkan dalam situasi formal.

Salah satu contoh yang paling sering terdengar adalah penggunaan suku kata “Cuk”, yang merupakan potongan dari kata “Jancuk”. Kata ini kini kerap diucapkan oleh pelajar, tanpa memandang tempat, waktu, atau kepada siapa mereka berbicara. Ironisnya, kata tersebut kini terdengar seolah menjadi bagian dari komunikasi sehari-hari.

Dulu, generasi sebelum tahun 2000-an akan berpikir dua kali untuk mengucapkan kata semacam itu, karena bisa dianggap sangat tidak sopan dan berakibat pada hukuman dari orang tua. Namun, pada generasi saat ini, kata “Cuk” justru seolah menjadi bahasa gaul yang lumrah, bahkan digunakan dalam percakapan dengan orang yang lebih tua.

Normalisasi Kata Kasar di Kalangan Remaja

Fenomena ini makin terasa di ruang-ruang publik. Di sekolah, di tempat bermain, bahkan saat anak-anak bermain game online, kata “Cuk” sering kali meluncur begitu saja. Ketika kalah bermain, kesal, bercanda dengan teman, atau bahkan saat melakukan kesalahan kecil, kata itu menjadi ekspresi spontan.
Padahal, kebiasaan semacam ini bisa berdampak pada pembentukan karakter dan etika komunikasi anak di masa depan.

Menurut catatan Wikipedia, istilah “jancuk, jancok, diancok, cuk, atau cok” bermakna “sialan, keparat, brengsek”, sebuah ungkapan untuk mengekspresikan kekecewaan atau keheranan. Meskipun di beberapa daerah Jawa Timur kata ini mengalami pergeseran makna (ameliorasi) dan digunakan sebagai bentuk keakraban, tetap saja dalam konteks umum, kata tersebut memiliki konotasi negatif dan tidak pantas diucapkan secara terbuka, apalagi oleh anak usia sekolah.

BacaJuga :

OPINI: Malang, Kota Pendidikan dan Fenomena Bunuh Diri

Pembangunan Alun-Alun Kepanjen, Antara Perencanaan dan Keberanian Administratif

Dampak Bahasa terhadap Perkembangan Anak

Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cerminan kepribadian. Ketika anak terbiasa menggunakan kata kasar, hal itu bisa memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan berinteraksi sosial. Jika tidak dikendalikan sejak dini, kebiasaan berbahasa yang buruk dapat berdampak pada perilaku, psikologi sosial, dan kemampuan beradaptasi anak di lingkungan sekitar.

Orang tua dan guru memiliki peran penting dalam membimbing anak agar memahami batas antara bahasa ekspresif dan bahasa yang pantas. Anak-anak perlu diajak memahami bahwa berbicara dengan sopan tidak berarti ketinggalan zaman, justru mencerminkan kecerdasan dan kematangan moral.

Menanamkan Etika Berbahasa Sejak Dini

Dalam ajaran Islam, akhlak yang baik menjadi tolok ukur utama keimanan seseorang. Sebagaimana hadits riwayat At-Tirmidzi nomor 2002:

“Tidak ada sesuatu pun yang paling berat dalam timbangan kebaikan seorang mukmin pada hari kiamat seperti akhlak yang mulia. Sesungguhnya Allah membenci orang yang lisannya kotor dan kasar.”

Nilai-nilai ini bisa menjadi dasar untuk membiasakan anak memilih diksi yang baik. Saat mendapat musibah, ucapkan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Saat bersyukur, ucapkan “Alhamdulillah.” Saat kagum, “Subhanallah” atau “Masya Allah.” Banyak kata indah dalam bahasa Indonesia maupun bahasa agama yang bisa menggantikan umpatan kasar.

Menjaga Lisan, Menjaga Martabat

Memasuki Bulan Bahasa 2025, penting bagi kita untuk merefleksikan kembali nilai luhur dalam berbahasa. Pepatah Jawa mengatakan:

“Ajining diri soko lathi, ajining raga soko busana,”. Artinya, kehormatan diri seseorang diukur dari tutur katanya, dan harga diri dari penampilannya.

Mari kita biasakan anak-anak berbicara dengan sopan, santun, dan penuh rasa hormat. Karena dari lisan yang terjaga, akan lahir generasi yang beradab, berkarakter, dan siap menyongsong Indonesia Emas dengan martabat yang tinggi. (*)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook

Menyukai ini:

Suka Memuat...
Tags: Opini

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Koops TNI Habema Bagikan Sembako dan Layanan Kesehatan di Gome Papua Tengah

Hari Terakhir Diskon PBB HUT Gresik, Ratusan Warga Antre Bayar Pajak

Koperasi Merah Putih Pojokwatu Blora Rampung, Siap Dongkrak Ekonomi Warga

Pesantren Refah Islami Gresik Lahirkan Hafiz ke-100

Terekam CCTV, Pencuri Rumah Kosong di Junrejo Batu Diringkus Polisi

Rapat Kabinet, Presiden Prabowo Soroti Krisis hingga Subsidi BBM

Ketua IPJI Sumbar Temui Menko Polkam, Bahas Isu Strategis

Satlantas Polres Gresik Raih Predikat Teraktif 2 Polda Jatim, Unggul di Pelaporan Pengawalan

Pengelola Wisata di Gresik Ikuti Sertifikasi BNSP, Ini Pesan Wabup

Ketat! 33 Casis Tamtama TNI AU Makassar Berebut Lolos ke Seleksi Pusat

Prev Next

POPULER HARI INI

Internet Rakyat Hadir di Blitar, Tarif Rp100 Ribu per Bulan Kecepatan 100 Mbps

Dandim Wonosobo Tinjau Pembangunan KDMP di Tiga Desa, Pastikan Tepat Waktu

Terekam CCTV, Pencuri Rumah Kosong di Junrejo Batu Diringkus Polisi

Pemkab Gresik Dorong Percepatan Proyek Jalan Laban 13 Km, Target 4 Jalur

43 Bangunan Liar di Driyorejo Gresik Dibongkar, Satpol PP Tegakkan Perda

BERITA LAINNYA

Koops TNI Habema Bagikan Sembako dan Layanan Kesehatan di Gome Papua Tengah

Koperasi Merah Putih Pojokwatu Blora Rampung, Siap Dongkrak Ekonomi Warga

Rapat Kabinet, Presiden Prabowo Soroti Krisis hingga Subsidi BBM

Ketua IPJI Sumbar Temui Menko Polkam, Bahas Isu Strategis

Ketat! 33 Casis Tamtama TNI AU Makassar Berebut Lolos ke Seleksi Pusat

Analis Apresiasi Bareskrim Polri Bongkar Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi

Pembangunan Alun-Alun Kediri Tertunda, Pemkot Desak Kontraktor Patuhi Putusan MA

Persit Dorong UMKM Sasirangan, Kembangkan Warisan Jadi Sumber Ekonomi

Internet Rakyat Masuk Kota Probolinggo, Murah dan Ngebut

Dandim Wonosobo Tinjau Pembangunan KDMP di Tiga Desa, Pastikan Tepat Waktu

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Portal Bendungan Lahor Dibuka Paksa, Warga Tolak Retribusi Akses Malang-Blitar

Dubes Uzbekistan Ziarah ke Sunan Gresik, Gresik Kian Mendunia

Internet Rakyat Hadir di Blitar, Tarif Rp100 Ribu per Bulan Kecepatan 100 Mbps

Pemkab Gresik Dorong Percepatan Proyek Jalan Laban 13 Km, Target 4 Jalur

BloomBite, Manifestasi Ide Hebat CEO Cilik Afshiena di Industri Camilan Sehat

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Beranda
  • PENDIDIKAN
  • KESEHATAN
  • EKONOMI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • HUKUM
  • OLAHRAGA
  • WISATA & KULINER
  • ESAI

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

%d