JAVASATU.COM- Operasional SPAM Bango di Kota Malang kembali disorot DPRD Kota Malang. Dewan membandingkan target produksi dengan realisasi air dari instalasi tersebut setelah sistem penyediaan air minum itu dinilai kerap tersendat sejak mulai beroperasi pada Agustus 2025.

Ketua Komisi B DPRD Kota Malang Bayu Rekso Aji mengatakan gangguan operasional hampir terjadi setiap bulan sehingga berdampak pada capaian produksi air.
“Sejak 1 Agustus 2025 SPAM Bango berjalan dengan kapasitas awal 200 liter per detik. Namun hampir setiap bulan ada gangguan dan realisasi produksi tidak selalu sesuai target,” kata Bayu dalam rapat evaluasi, Selasa (10/3/2026).
Target dan Realisasi Produksi Berbeda
Dalam perjanjian kerja sama penyediaan air baku, target transaksi minimal ditetapkan 14.755 meter kubik per hari dengan tarif Rp1.600 per meter kubik.
Namun data operasional yang dipaparkan dalam rapat menunjukkan realisasi produksi beberapa kali berada di bawah target.
Pada Agustus 2025, target produksi tercatat 458.025 meter kubik, sementara realisasi mencapai 454.081 meter kubik atau selisih sekitar 3.944 meter kubik.
Selanjutnya pada September 2025, selisih produksi meningkat cukup besar. Dari target 443.250 meter kubik, realisasi hanya sekitar 408.586 meter kubik, sehingga terdapat selisih sekitar 34.664 meter kubik.
Pada Oktober 2025, realisasi produksi mencapai 445.554 meter kubik dari target 458.025 meter kubik, dengan selisih sekitar 12.471 meter kubik.
Sedangkan pada November 2025, produksi tercatat 431.914 meter kubik dari target 443.250 meter kubik, atau selisih sekitar 11.336 meter kubik.
Menurut Bayu, perbandingan data tersebut menunjukkan operasional instalasi belum sepenuhnya stabil.
Layani Lebih dari 20 Ribu Sambungan
Saat ini SPAM Bango melayani sekitar 20.758 sambungan rumah di Kota Malang, meliputi wilayah Muharto Timur, Jalan KH Malik, Mayjen Sungkono hingga kawasan GOR Ken Arok.
Air baku sistem ini berasal dari Sungai Bango yang kemudian diolah di instalasi Water Treatment Plant (WTP) sebelum didistribusikan melalui jaringan milik Perumda Tugu Tirta.
DPRD menilai ketidaksesuaian antara target dan realisasi produksi perlu menjadi perhatian serius karena berkaitan langsung dengan pelayanan air bersih bagi masyarakat.
“Ujungnya tetap masyarakat. Jangan sampai operasional instalasi ini terus terganggu sehingga pelayanan air bersih ikut terdampak,” ujar Bayu.

PJT I Sebut Faktor Sedimen
Menanggapi sorotan tersebut, Vice President Pengembangan Bisnis Perum Jasa Tirta I (PJT I) Didik Ardianto menjelaskan gangguan operasional dipengaruhi kondisi sumber air dari Sungai Bango.
Menurutnya, saat hujan deras debit sungai meningkat dan membawa sampah serta sedimen yang dapat menutup saluran intake.
“Ketika hujan deras, debit sungai meningkat dan membawa sampah serta sedimen yang menutup intake sehingga air tidak bisa masuk ke instalasi pengolahan,” jelas Didik.
Ia menambahkan, operator terkadang harus menghentikan sementara produksi sesuai standar operasional untuk menjaga kualitas air yang dihasilkan.
Saat ini, kata Didik, intake sungai telah dibersihkan dan operasional instalasi kembali berjalan normal setelah dilakukan pembersihan sedimen secara berkala. (arf)