email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Kamis, 21 Mei 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

OPINI: Malang, Kota Pendidikan dan Fenomena Bunuh Diri

by Javasatu
27 Maret 2026
Fajar SH. (Credit: Fajar)

OPINI

Malang, Kota Pendidikan dan Fenomena Bunuh Diri

Oleh: Pemerhati Kemasyarakatan, Fajar SH

Di Kota Malang, yang sejak lama dipuja sebagai ruang tumbuh kaum terdidik, kita justru dihadapkan pada ironi yang sulit disangkal: meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa. Kota yang konon menjanjikan masa depan ini, pada saat yang sama menyimpan ruang-ruang sunyi yang tak terjangkau, ruang di mana individu berhadapan dengan dirinya sendiri tanpa penopang yang memadai.

Kita kerap tergoda membaca peristiwa bunuh diri sebagai tragedi personal: kegagalan akademik, putus cinta, atau tekanan ekonomi. Namun, cara pandang semacam itu tidak hanya menyederhanakan persoalan, tetapi juga menutup kemungkinan untuk memahami akar masalah yang lebih dalam. Bunuh diri, dalam perspektif Emile Durkheim, bukan semata tindakan individual, melainkan gejala sosial, cerminan dari retaknya hubungan antara individu dan struktur yang seharusnya menopangnya.

Mahasiswa di Malang datang dengan harapan besar. Mereka adalah representasi mobilitas sosial: anak-anak muda yang meninggalkan kampung halaman demi mengejar masa depan. Namun di balik itu, mereka juga memikul beban yang tidak ringan, ekspektasi keluarga, tekanan untuk berhasil, serta ketakutan akan kegagalan. Ketika harapan tersebut tidak diimbangi dengan dukungan yang memadai, ia berubah menjadi tekanan yang perlahan menggerus daya tahan mental.

Pada titik ini, institusi pendidikan tidak bisa dilepaskan dari kritik. Kampus, yang seharusnya menjadi ruang pembentukan manusia secara utuh, kerap terjebak dalam logika produksi: menghasilkan lulusan secepat mungkin dengan standar akademik setinggi mungkin. Mahasiswa diposisikan sebagai “subjek yang harus berhasil”, bukan sebagai manusia yang juga boleh rapuh. Layanan konseling memang hadir, tetapi sering kali bersifat administratif, belum sepenuhnya menjadi ruang aman yang hidup dalam keseharian mahasiswa.

Namun, menyalahkan kampus semata juga merupakan penyederhanaan. Kampus beroperasi dalam kerangka yang lebih besar, yakni sistem pendidikan nasional. Di sinilah negara harus masuk dalam lingkar kritik. Kebijakan pendidikan di Indonesia masih terlalu menekankan kompetisi dan capaian formal, sementara kesehatan mental belum ditempatkan sebagai prioritas yang setara.

Negara seolah mengasumsikan setiap individu memiliki daya tahan yang sama, padahal realitasnya tidak demikian. Ketika standar keberhasilan ditetapkan tinggi tanpa diimbangi sistem dukungan yang kuat, yang terjadi adalah “seleksi sunyi”: mereka yang tidak mampu bertahan akan tersingkir, sering kali tanpa suara.

Kritik terhadap negara bukan berarti menafikan tanggung jawab individu, melainkan menempatkan persoalan ini dalam kerangka yang lebih adil. Sebab individu tidak pernah benar-benar berdiri sendiri; ia selalu berada dalam jaringan struktur yang membentuk cara berpikir dan bertindaknya.

BacaJuga :

OPINI: Kota Batu Aman dari Begal: “Jangan Mudah Terprovokasi Hoaks Media Sosial”

OPINI REDAKSI: Ketegasan Umar bin Khattab dan Pembebasan Martabat Manusia (Sesi 4 – Selesai)

Lebih jauh, ada lapisan lain yang kerap luput, yakni budaya masyarakat itu sendiri. Kita hidup dalam kultur yang ambivalen terhadap kerentanan. Di satu sisi, keberhasilan dipuja; di sisi lain, kegagalan sulit diterima. Mengeluh dianggap lemah, sementara mencari bantuan psikologis masih dibayangi stigma. Akibatnya, banyak individu memilih diam, menyimpan beban hingga mencapai titik yang tidak lagi tertahankan.

Dalam situasi seperti ini, bunuh diri bukanlah keputusan yang lahir dalam satu malam. Ia merupakan akumulasi dari kesunyian yang panjang, kesunyian yang diproduksi oleh sistem yang tidak memberi cukup ruang bagi manusia untuk menjadi tidak sempurna.

Di sinilah relevansi pemikiran Albert Camus mengemuka. Camus menyebut bunuh diri sebagai pertanyaan filsafat paling serius: apakah hidup ini layak dijalani? Pertanyaan ini menjadi genting ketika individu tidak lagi menemukan makna dalam kehidupannya, ketika segala sesuatu terasa mekanis, tanpa kedalaman, tanpa tujuan yang benar-benar dimiliki.

Malang, dalam konteks ini, bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol. Ia merepresentasikan wajah pendidikan kita hari ini: penuh harapan, tetapi juga menyimpan retakan yang tidak kecil. Kita mampu mencetak manusia cerdas, tetapi belum tentu manusia yang tangguh secara emosional.

Upaya yang selama ini dilakukan cenderung bersifat reaktif. Pemasangan pagar di jembatan, peningkatan pengawasan, atau imbauan moral memang penting, tetapi belum menyentuh akar persoalan. Sebab bunuh diri bukan sekadar tindakan, melainkan proses panjang yang tumbuh dalam diam.

Karena itu, solusi tidak bisa parsial. Kampus perlu mengintegrasikan kesehatan mental ke dalam kehidupan akademik secara serius, bukan sekadar pelengkap. Negara harus merumuskan kebijakan yang menempatkan kesejahteraan psikologis sebagai bagian dari tujuan pendidikan. Pada saat yang sama, masyarakat perlu membangun budaya yang lebih ramah terhadap kerentanan.

Tanpa itu, kita hanya akan terus memproduksi generasi yang tampak kuat di permukaan, tetapi rapuh di kedalaman.

Pada akhirnya, fenomena bunuh diri di Malang adalah cermin. Ia memantulkan cara kita membangun manusia: apa yang kita tuntut, apa yang kita abaikan, dan apa yang kita anggap penting. Jika kita masih melihatnya sebagai persoalan individu semata, maka kita sedang menolak untuk bercermin. Dan selama kita menolak bercermin, kesunyian itu akan terus ada. diam, tetapi mematikan. (*)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: Opini

Comments 1

  1. Ari M says:
    2 bulan ago

    mengapa mhs bunuh diri marak di Mlg

    Mahasiswa dari luar kota yang sekolah ke Malang sebagian berasal dari kota besar yang sibuk seperti misalnya Jakarta Surabaya Makassar Medan Denpasar mengapa mereka jauh-jauh ke kota Malang karena kota Malang selain dingin dan sejuk juga mungkin sepi dari berisiknya dunia persaingan bisnis, politik, dan mendamba pergaulan yang santai kehidupan yg santai dan tenang. Sebagian sudah sesuai dengan harapan, tetapi politik, bisnis, persaingan, di kota Malang semakin semarak dan itu mungkin yang membuat mahasiswa-mahasiswa yang tadinya dari luar kota kepingin menghindar masalah yang rumit-rumit ternyata di kota Malang sudah ada dan sudah ramai pula sehingga kemana lagi mereka mau berlari.

    Memuat...
    Reply

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Gresik Dibanjiri Investasi, Warga Dapat Apa?

Pendulang Emas Disebut Aparat Menyamar, TNI Buka Fakta Korban

Delapan Pendulang Emas Tewas di Korowai Yahukimo, TNI Buru Pelaku

Forum Rembuk Peduli Gresik Soroti Pudarnya Identitas Kota Santri

Pembangunan Sekolah Rakyat Sidayu Gresik Capai 55 Persen

Harkitnas 2026, Polres Malang Fasilitasi SIM D Gratis untuk Disabilitas

Polisi Tangkap Pembobol Rumah saat Tarawih di Gondanglegi

Gresik Gunakan AI untuk Layanan dan Kebijakan Hukum

Kolonel Vincentius Endy Hadi Putra Resmi Jabat Danlanud Sultan Hasanuddin

Pokja Bunda PAUD Gresik Dikukuhkan, Tekankan Pendidikan Karakter Anak

Prev Next

POPULER HARI INI

Kepala Bapenda Malang Jadi Sekda Semarang, Wali Kota Wahyu Siapkan Mutasi Kilat

Razia Pajak Kendaraan di Kota Batu, Tim Gabungan Jaring 39 Pelanggar

Kolonel Vincentius Endy Hadi Putra Resmi Jabat Danlanud Sultan Hasanuddin

Gresik Dibanjiri Investasi, Warga Dapat Apa?

Forum Rembuk Peduli Gresik Soroti Pudarnya Identitas Kota Santri

BERITA LAINNYA

Gresik Dibanjiri Investasi, Warga Dapat Apa?

Pendulang Emas Disebut Aparat Menyamar, TNI Buka Fakta Korban

Delapan Pendulang Emas Tewas di Korowai Yahukimo, TNI Buru Pelaku

Forum Rembuk Peduli Gresik Soroti Pudarnya Identitas Kota Santri

Pembangunan Sekolah Rakyat Sidayu Gresik Capai 55 Persen

Harkitnas 2026, Polres Malang Fasilitasi SIM D Gratis untuk Disabilitas

Polisi Tangkap Pembobol Rumah saat Tarawih di Gondanglegi

Gresik Gunakan AI untuk Layanan dan Kebijakan Hukum

Kolonel Vincentius Endy Hadi Putra Resmi Jabat Danlanud Sultan Hasanuddin

Pokja Bunda PAUD Gresik Dikukuhkan, Tekankan Pendidikan Karakter Anak

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Razia Pajak Kendaraan di Kota Batu, Tim Gabungan Jaring 39 Pelanggar

Kisah Zubaedah Bertahan di Lorong Pasar Kebalen yang Sunyi

Kepala Bapenda Malang Jadi Sekda Semarang, Wali Kota Wahyu Siapkan Mutasi Kilat

Keluarga Purnawirawan TNI di Malang Mengadu ke DPRD soal Rencana Penertiban Rumah

DPRD Soroti Izin Toko Minol di Malang, Pemkot Diminta Tak Berlindung di Balik OSS

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

%d