JAVASATU.COM- Padepokan Kosgoro 57 menggelar pergelaran wayang kulit dengan lakon Parikesit Jumeneng Ratu di Pendopo Agung Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Selasa (5/5/2026) malam. Kegiatan ini menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus penguatan nilai persatuan bangsa.

Pergelaran yang menghadirkan dalang Ki KRT Senoaji Singo Munajad itu dihadiri sejumlah tokoh nasional dan daerah, serta perwakilan pemerintah.
“Kami ingin melalui budaya wayang ini, semangat persatuan dan gotong royong terus dijaga sebagai bagian dari jati diri bangsa,” ujar Ketua Dewan Pembina Padepokan Kosgoro 57, Ki M. Ridwan Hisjam.
RH, sapaan akrab Ridwan Hisjam, menegaskan, pemilihan Trowulan sebagai lokasi bukan tanpa alasan. Kawasan ini memiliki nilai historis sebagai simbol pemersatu Nusantara sejak era Majapahit.
“Tempat ini bersejarah, di sinilah semangat persatuan Nusantara digaungkan. Maka budaya harus kita jaga dan kembangkan,” tegasnya.
Menurutnya, budaya merupakan warisan leluhur yang tidak bisa dipisahkan dari identitas bangsa dan harus dirawat di tengah arus globalisasi.
“Budaya adalah peninggalan leluhur yang tidak bisa ditawar. Kita boleh menerima budaya luar, tapi harus saling menguatkan, bukan menghilangkan jati diri,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Ridwan juga menyinggung pentingnya regulasi dalam menjaga kemajuan kebudayaan nasional. Ia menyebut Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan yang disahkan pada 2016 sebagai langkah awal yang perlu terus disempurnakan.
“Kami berharap ke depan ada penyempurnaan regulasi agar pelestarian budaya semakin kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pergelaran wayang ini juga diharapkan mampu menjadi media edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih mengenal nilai-nilai budaya dan sejarah bangsa.
“Melalui wayang, kita tidak hanya menonton, tapi juga belajar nilai kehidupan, kepemimpinan, dan kebangsaan,” ungkapnya.
Acara berlangsung khidmat dan diikuti antusias ratusan pengunjung yang memadati area Pendopo Agung Trowulan hingga malam hari.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus digelar sebagai upaya merawat budaya sekaligus memperkuat persatuan bangsa,” pungkas Ridwan.

Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan, Ki Ahmad Fajar Ridwan Hisjam, menyampaikan bahwa rangkaian acara tidak hanya pergelaran wayang, tetapi juga forum diskusi dan penghargaan bagi tokoh budaya.
“Kegiatan ini diawali dengan diskusi yang melahirkan sejumlah gagasan untuk pengembangan kebudayaan, yang nantinya akan kami sampaikan kepada pemangku kebijakan,” ujarnya.
Fajar menegaskan, semangat persatuan menjadi pesan utama dalam kegiatan yang digelar di kawasan bersejarah tersebut.
“Kita ingin meneladani semangat Sumpah Palapa, bahwa persatuan hanya bisa terwujud dengan kerja keras, gotong royong, dan kesederhanaan,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya acara.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia, kru, dan tamu undangan yang telah menyukseskan kegiatan ini,” pungkasnya. (saf)