JAVASATU.COM- Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang pendiri pesantren di Pati terhadap puluhan santri menuai perhatian luas dari berbagai kalangan. Menyikapi hal ini, Dai asal Malang, Ery Santika, S.ST., M.Ag., angkat bicara dengan memberikan pandangan dan pencerahan bagi masyarakat.

Dalam keterangannya, Ery menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi momentum refleksi bersama, terutama dalam memahami posisi agama dan figur keagamaan di tengah masyarakat.
“Kita perlu membedakan antara kesalehan yang tampak secara simbolik dengan integritas moral yang sesungguhnya. Simbol keagamaan tentu patut dihormati, namun tidak serta-merta menjadikan seseorang terbebas dari kemungkinan melakukan penyimpangan,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Menurutnya, fenomena ini mencerminkan adanya kecenderungan sebagian masyarakat yang memberikan kepercayaan sangat besar terhadap ketokohan, namun belum diimbangi dengan mekanisme kontrol yang proporsional. Kondisi tersebut, jika tidak dikelola dengan bijak, berpotensi membuka ruang terjadinya penyalahgunaan kewenangan.
Ery menambahkan bahwa dalam ajaran Islam tidak dikenal konsep manusia yang sepenuhnya terbebas dari kesalahan. Setiap individu memiliki kemungkinan untuk keliru, sehingga penting bagi masyarakat untuk tetap mengedepankan sikap kritis yang santun serta melakukan tabayyun (klarifikasi) sebelum mengambil kesimpulan. Sikap ini bukan untuk merendahkan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam menjaga nilai-nilai kebaikan dan keadilan.
Menambahkan pandangannya, Ery juga mengingatkan “Pesantren adalah tempat mulia untuk menuntut ilmu. Jangan sampai ternoda oleh ulah segelintir oknum. Justru kita harus menjaga marwahnya”
Kasus di Pati ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan publik harus dijaga dengan tanggung jawab besar. Ery berharap masyarakat tidak kehilangan kepercayaan terhadap dunia pendidikan Islam, namun tetap bersikap rasional dan tidak menutup mata terhadap realitas.
Ia berharap kasus ini dapat menjadi momentum refleksi bagi semua pihak untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh, baik dari sisi sistem, budaya, maupun cara pandang terhadap otoritas keagamaan.
“Kita tentu ingin agama tetap menjadi sumber nilai dan penerang kehidupan. Karena itu, penting bagi kita semua untuk menjaga agar kepercayaan yang ada tidak disalahgunakan oleh oknum tertentu,” pungkas Da’i lulusan magister UIN Malang ini. (saf)