JAVASATU.COM- Padepokan Kosgoro 57 menganugerahkan gelar kehormatan “Ki” kepada tujuh tokoh di Indonesia dalam acara budaya yang digelar di Pendopo Agung Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Selasa (5/5/2026) malam. Pemberian gelar ini menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi mereka di bidang pendidikan, kebudayaan, dan pengabdian kepada bangsa.

Pengukuhan tersebut berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Pusat Padepokan Kosgoro 57 Nomor 02/SK/PP-Kosgoro57/2026 tertanggal 1 Mei 2026.
“Pemberian gelar ini merupakan hasil konsolidasi dan proses panjang, termasuk masukan dari berbagai pihak serta hasil rapat pleno,” demikian dibacakan dalam keputusan resmi panitia.
Tujuh tokoh yang menerima gelar “Ki” antara lain:
- Mohammad Arsjad Rasjid Prabu Mangkuningrat Ketua Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia
- Fanshurullah Asa selaku Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia
- Mukhtar Tompo sebagai tokoh masyarakat Sulawesi Selatan
- Izhari Mawardi selaku Wakil Bendahara Umum Persatuan Insinyur Indonesia
- Adik Dwi Putranto selaku Ketua Kadin Jawa Timur
- Muhammad Nabil selaku Ketua KONI Jawa Timur
- Lutfil Hakim selaku Ketua PWI Jawa Timur
Salah satu penerima gelar, Mohammad Arsjad Rasjid, menyampaikan bahwa penghargaan ini menjadi simbol persatuan lintas daerah di Indonesia.
“Ini bukan sekadar gelar, tapi juga simbol menyatukan Nusantara, karena yang hadir berasal dari berbagai daerah seperti Jawa, Sumatera, hingga Sulawesi,” ujar Ketua Dewan Pembina Padepokan Kosgoro 57, Ki M. Ridwan Hisjam.
Ia menekankan pentingnya semangat gotong royong dalam menjaga keutuhan bangsa di tengah tantangan global.
“Kita harus terus menjaga persatuan dan gotong royong. Tanpa kedamaian, tidak akan ada kesejahteraan bagi bangsa,” tegasnya.
Menurutnya, semangat tersebut sejalan dengan cita-cita besar menuju Indonesia Emas 2045.
“Tujuan kita sama, membawa Indonesia menuju kesejahteraan dan kemajuan bersama,” katanya.

Sementera itu, menurut Ki Ahmad Fajar Ridwan Hisjam, Ketua Panitia kegiatan, penerima gelar telah melalui proses kurasi mendalam berdasarkan kontribusinya.
“Tokoh-tokoh ini dipilih karena dedikasinya di bidang pendidikan dan kebudayaan,” jelasnya.
Fajar menambahkan, pemilihan Trowulan sebagai lokasi memiliki makna historis yang kuat sebagai simbol persatuan Nusantara.
“Kita ingin meneladani semangat Sumpah Palapa, bahwa persatuan hanya bisa dicapai melalui kerja keras dan gotong royong,” tegasnya. (saf)