JAVASATU.COM- Bayang-bayang sejarah besar tahun 1955 seolah kembali hadir di lantai 9 Graha Rektorat Universitas Negeri Malang (UM), Rabu (6/5/2026).
Jika tujuh dekade silam para pemimpin bangsa berkumpul di Bandung untuk memutus rantai kolonialisme politik, kini semangat yang sama ditiupkan kembali melalui senjata baru: Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek).
Agenda AFRASIA Programme Validation yang mempertemukan delegasi Indonesia, Malaysia, Afrika Selatan, dan Tanzania ini bukan sekadar pertemuan akademik biasa.

Di mata Rektor UM, Prof. Dr. Hariyono, M.Pd., forum ini adalah upaya konkret menerjemahkan cita-cita luhur Konferensi Asia Afrika (KAA) ke dalam konteks abad ke-21.
“Ini yang sebenarnya sedang kita lakukan, menerjemahkan bagaimana Konferensi Asia Afrika yang selama ini ditafsirkan sebagai deklarasi politik, menjadi sebuah deklarasi Iptek,” tutur Prof. Hariyono.
Ia teringat pidato ikonik Bung Karno di hadapan delegasi Asia-Afrika puluhan tahun silam. Sang Proklamator mengingatkan bahwa negara Selatan sulit setara dengan negara Utara jika terus tertinggal dalam teknologi.
Bung Karno bahkan menyoroti penguasaan nuklir yang saat itu hanya didominasi kekuatan Barat. Saat itu, hanya India dan Pakistan dari kelompok Selatan yang mulai bisa memanfaatkannya.
“Bung Karno menyatakan kita tidak akan mungkin bisa setara kalau tidak menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” tambah Prof. Hariyono.
Kesadaran itulah yang mendasari lahirnya AFRASIA. Menurut Prof. Hariyono, hubungan antar negara Selatan-Selatan selama ini masih relatif lemah dan cenderung bergantung pada negara maju.
Padahal, negara-negara pascakolonial memiliki akar permasalahan dan potensi yang serupa. Melalui kolaborasi bersama ISTIC-UNESCO, riset kini merambah dari sains murni hingga sosial humaniora.
Harapannya, kerja sama ini tidak hanya menghasilkan jurnal di rak perpustakaan, tetapi mampu memperbaiki posisi tawar Indonesia di peta geoekonomi dan geopolitik global.
“Kalau kerja sama Asia-Afrika ini di bidang Iptek berkembang, ekonomi juga ikut berkembang, maka dampaknya bagi geopolitik kita akan semakin baik lagi,” pungkasnya. (jup)