JAVASATU.COM- Kolaborasi lintas benua AFRASIA yang diinisiasi Universitas Negeri Malang (UM) bersama mitra global kini memasuki tahap teknis yang lebih dalam.
Tiga isu fundamental disepakati sebagai pilar utama riset: kesehatan, krisis air bersih, dan ketahanan energi. Tiga masalah ini dinilai sebagai tantangan serupa yang dihadapi hampir seluruh negara pascakolonial.
Wakil Rektor III UM, Prof. Dr. Markus Diantoro, M.Si., menjelaskan bahwa pemilihan topik tersebut merupakan hasil kesepakatan pertemuan di Pretoria, Afrika Selatan, tahun lalu.

“Topik utama yang disepakati ada tiga: kesehatan, masalah air, dan masalah energi. Ketiganya dianggap paling utama dan dialami oleh setiap negara,” jelas Prof. Markus.
Menariknya, riset yang dikembangkan tidak hanya berfokus pada inovasi teknologi murni. AFRASIA mewajibkan setiap penelitian menggunakan pendekatan multidisiplin.
Artinya, peneliti sosial dan humaniora harus terlibat untuk mengukur bagaimana dampak teknologi tersebut terhadap perubahan perilaku dan sosial di masyarakat.
“Riset tidak boleh hanya menghasilkan produk, tapi harus membawa perubahan sosial yang nyata. Masyarakat harus menerima dampak positifnya,” tambah Prof. Markus.
Saat ini, program AFRASIA sedang mematangkan parameter riset melalui berbagai working package. UM sendiri memegang peran kunci dalam paket kerja kolaborasi internasional.
Langkah konkret selanjutnya adalah soft launching program di Cape Town, Afrika Selatan. Rektor UM dijadwalkan hadir langsung untuk mengunci komitmen bersama sejumlah universitas mitra.
Memasuki tahun 2027, program ini akan resmi diimplementasikan melalui skema kompetisi riset yang dibuka untuk 77 negara anggota Kerja Sama Selatan-Selatan (South-South Cooperation).
Meski dibuka untuk puluhan negara, pendaftar diwajibkan menjalin kolaborasi dengan empat negara inisiator: Indonesia, Malaysia, Tanzania, dan Afrika Selatan. (jup)