JAVASATU.COM- Operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang menuntut perubahan budaya kerja yang drastis bagi para relawan yang terlibat.

Pihak pengelola menegaskan bahwa unit ini bukanlah dapur konvensional atau swasta, melainkan satuan pelayanan dengan standar mutu yang ketat.
Ketua Yayasan Synergy An Nahl Indonesia, Ahmad R Kurniawan, mengakui adanya tantangan besar dalam mendisiplinkan para relawan di lapangan.
“Yakin ini merupakan adaptasi baru bagi para relawan. Yang awalnya masih tidak memperhatikan kebersihan pada saat menjamah makanan, sekarang harus,” ujar Ahmad, Kamis (7/5/2026).
Setiap unit dapur setidaknya mempekerjakan sekitar 47 hingga 50 orang relawan untuk memastikan produksi makanan berjalan lancar.
Ahmad juga menekankan pentingnya menjaga etika terhadap warga sekitar, mengingat aktivitas dapur yang padat berpotensi menimbulkan kebisingan.
“Ini kalau lagi istirahat, juga cukup mengganggu sebenarnya. Dan tolong (para relawan, red) hormati warga dengan aktivitas teman-teman semuanya,” tegasnya.
Selain masalah kebersihan dan etika lingkungan, pengelola juga mengawasi ketat integritas para relawan agar tidak mencari keuntungan pribadi.
“Kita melakukan pelayanan bukan untuk berniat selain dari itu. Apalagi orientasi yang dilakukan oleh pelayan-pelayan kami untuk mencari keuntungan sesuatu,” tambahnya.
Untuk memastikan standar pelayanan tetap terjaga, pihak yayasan telah menempatkan satu perwakilan khusus sebagai pengawas di setiap titik dapur.
Perwakilan tersebut bertugas menerima masukan dan kritik langsung dari warga maupun penerima manfaat demi perbaikan layanan secara real-time.
Masyarakat sekitar pun secara terbuka diminta untuk ikut memonitor perilaku para relawan selama operasional dapur berlangsung.
“Saya mohon sekali lagi Bapak-Ibu sekalian, terkhusus warga-warga sekitar dapur-dapur kami ini, tolong monitor dan awasi kami,” tutup Ahmad. (jup)