JAVASATU.COM- Pemerintah Kota (Pemkot) Malang melakukan evaluasi terhadap metode penyajian program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah sempat menguji coba model prasmanan di sekolah.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa meski model prasmanan sangat disukai siswa, metode ini memiliki kendala besar pada efektivitas waktu operasional sekolah.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengungkapkan bahwa proses makan model prasmanan membutuhkan durasi yang jauh lebih lama dibandingkan nasi kotak.
“Iya, sudah sempat kami lakukan. Tetapi karena butuh waktu yang lama akhirnya mengurangi jam pelajaran,” kata Wahyu.
Masalah manajemen waktu ini telah dilaporkan langsung kepada pihak Badan Gizi Nasional (BGN) saat kunjungan kerja di SPPG Buring.
Wahyu menilai antusiasme siswa terhadap model prasmanan sangat tinggi, namun ia tidak menyarankan metode ini dilakukan setiap hari.
“Tadi sudah saya laporkan kepada Pak Direktur, silakan (prasmanan, red) tetapi di waktu tertentu saja. Tidak setiap hari,” tuturnya.
Sebagai solusi tengah, Pemkot Malang mengusulkan agar model prasmanan hanya diterapkan pada hari-hari tertentu agar tidak mengganggu kurikulum utama.
“Karena memang dari siswanya memang antusias, nanti di waktu tertentu bisa di hari Jumat,” saran Wahyu.
Selain soal metode penyajian, Pemkot Malang terus meminta pihak sekolah memberikan umpan balik terkait kondisi makanan yang diterima siswa.
Hal ini dilakukan agar Satgas MBG bisa segera melakukan intervensi jika ditemukan menu yang kurang layak atau porsi yang tidak sesuai standar. (jup)