email: javasatu888@gmail.com
  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion
Javasatu.com
Senin, 7 September 2026
No Result
View All Result
Javasatu.com
No Result
View All Result

OPINI: Birokrasi Semakin Canggih, Tapi Kenapa Masih Banyak yang Kesulitan?

by Javasatu
7 Mei 2026
Ilustrasi

OPINI

Birokrasi Semakin Canggih, Tapi Kenapa Masih Banyak yang Kesulitan?

Oleh: Evika Dwi Anggraini – Mahasiswa Administrasi Publik, FISIP Untag Banyuwangi
(Artikel ini untuk tugas perkuliahan)

Saat ini kita telah memasuki era digital, di mana berbagai aktivitas yang sebelumnya dikerjakan secara manual kini dilakukan dengan bantuan teknologi. Perkembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir berlangsung sangat cepat. Pemerintah pun semakin gencar mendorong digitalisasi birokrasi sebagai bagian dari perubahan menuju tata kelola yang lebih modern.

Pelayanan publik saat ini dikemas dalam bentuk website, aplikasi, serta sistem online yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Sistem tersebut diklaim mampu mempercepat proses pelayanan, meningkatkan efisiensi waktu, mengurangi korupsi, serta meminimalisir birokrasi yang berbelit-belit.

Namun, di tengah narasi kemajuan teknologi tersebut, muncul pertanyaan penting yang perlu diperhatikan: apakah kemajuan teknologi dalam birokrasi benar-benar memudahkan semua orang, atau justru malah sebaliknya?

Faktanya, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Bukannya memudahkan masyarakat, kemajuan teknologi dalam birokrasi justru membuat sebagian masyarakat masih kebingungan ketika akan mengakses layanan berbasis digital tersebut. Mulai dari kesulitan memahami alur aplikasi, keterbatasan perangkat yang dimiliki, hingga akses jaringan internet yang belum merata di setiap daerah.

Dalam situasi seperti ini, digitalisasi bukan lagi menjadi solusi, melainkan memunculkan permasalahan baru bagi sebagian masyarakat untuk mendapatkan hak pelayanan publik.

Tidak hanya itu, pendekatan yang terlalu “korporatis” juga memiliki potensi menggeser makna dasar dari pelayanan publik itu sendiri. Jika dalam dunia bisnis efisiensi dan keuntungan menjadi tujuan utama, maka dalam sektor publik seharusnya keadilan pelayanan dan pemerataan yang lebih diutamakan.

Sayangnya, dalam praktik di lapangan, tidak sedikit masyarakat yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi justru menjadi kelompok yang dirugikan. Masyarakat dipaksa untuk beradaptasi dengan berbagai sistem yang tidak mereka pahami tanpa adanya penyuluhan dan pendampingan yang memadai.

Permasalahan lain yang tidak kalah penting adalah ketergantungan yang berlebihan terhadap teknologi. Ketika sistem mengalami gangguan atau error, pelayanan publik sering kali ikut terhenti karena semuanya bergantung pada sistem digital tersebut.

Akibatnya, masyarakat kembali mengalami birokrasi yang rumit dan memakan waktu lama, hanya saja dalam bentuk yang berbeda.

Hal tersebut menunjukkan bahwa transformasi birokrasi yang sedang terjadi saat ini cenderung lebih berorientasi pada citra modern dan hasil yang ingin ditampilkan dibandingkan substansi pelayanan itu sendiri. Digitalisasi seolah-olah hanya menjadi simbol kemajuan birokrasi, sementara di sisi lain masih banyak persoalan yang belum terselesaikan.

BacaJuga :

OPINI: Malang Raya Megapolitan, Dari Fragmentasi Menuju Integrasi Kawasan

OPINI: Transfer Pengetahuan BUMN: Belajar Tak Sekadar Meniru

Ketimpangan akses teknologi, rendahnya literasi digital, hingga kurangnya kesiapan sumber daya manusia menjadi bukti bahwa perubahan yang sedang berlangsung belum sepenuhnya siap diterapkan secara menyeluruh.

Menurut saya, modernisasi birokrasi memang penting. Namun, dalam melakukan perubahan, pemerintah harus berhati-hati dan melihat kondisi nyata di lapangan. Pemerintah tidak boleh mengabaikan aspek manusiawi dalam menerapkan paradigma korporasi di sektor publik.

Kurangnya kesiapan justru dapat menjadi boomerang dan merugikan banyak pihak. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap inovasi yang dilakukan benar-benar memberikan kemudahan bagi seluruh masyarakat, bukan hanya bagi golongan yang sudah siap secara teknologi.

Dalam birokrasi, efisiensi memang penting, tetapi hal tersebut tidak boleh dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan perkembangan teknologi. Pada dasarnya, pelayanan publik bukan hanya soal cepat atau lambatnya pelayanan, melainkan juga tentang keadilan, kemudahan akses, dan keberpihakan kepada seluruh masyarakat yang membutuhkan.

Jika tidak dilakukan evaluasi secara serius dan bertahap, maka kemajuan birokrasi yang semakin canggih justru dapat memunculkan ketimpangan baru. Hanya mereka yang “melek teknologi” yang mampu menikmati manfaatnya, sementara kelompok masyarakat lanjut usia atau yang tertinggal secara teknologi akan semakin kebingungan dan merasa perkembangan tersebut justru menyulitkan mereka.

Karena itu, pendekatan yang seimbang antara efisiensi dan keadilan menjadi kunci agar paradigma korporasi dalam sektor publik tidak kehilangan esensinya sebagai pelayan masyarakat. (*)

Bagikan ini:

  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
Tags: OpiniUntag Banyuwangi

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

BERITA TERBARU

Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan Layani 580 Warga di Jakarta

Nazali Lempo Tawarkan Arah Baru Penegakan Hukum Indonesia

Harlah Sabilu Taubah Blitar Merakyat, Warga Doa Bersama hingga Mancing

Malam Akrab Jadi Tradisi Warga RT 03 RW 07 Penanggungan Kota Malang

Gandeng 4 Kiai NU, PT Raya Al-Madinah Gemilang Gelar Manasik Umrah Akbar di Malang

Erupsi Gunung Anak Krakatau, TransNusa Sesuaikan Sejumlah Penerbangan

Asep Kusdinar: Pemerintah Tak Cukup Bekerja dari Balik Meja

Ada Al-Qur’an Tua dari Aceh di Museum Panji Kota Malang, Pakai Kertas Eropa

Baderhoods Wonosobo Didorong Ikut Promosikan Wisata Lewat Touring

Bakorwil Malang Dampingi Gubernur Jatim Salurkan Air Bersih dan Pasar Murah di Blitar

Prev Next

POPULER HARI INI

Warga Gerebek Rumah di Kalianget Wonosobo, Seorang Pria Diamankan

Baderhoods Wonosobo Didorong Ikut Promosikan Wisata Lewat Touring

IPNU-IPPNU Tambakrejo Gresik Santuni Anak Yatim, Tutup Rangkaian Kegiatan Ramadan

Pasar Bandeng Gresik 2026, Ikan Seberat 19 Kg Terjual Rp50 Juta, Ini Juaranya

Terlanjur Klik File APK Penipuan? Ini Langkah yang Disarankan BRI untuk Nasabah

BERITA LAINNYA

Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan Layani 580 Warga di Jakarta

Nazali Lempo Tawarkan Arah Baru Penegakan Hukum Indonesia

Harlah Sabilu Taubah Blitar Merakyat, Warga Doa Bersama hingga Mancing

Malam Akrab Jadi Tradisi Warga RT 03 RW 07 Penanggungan Kota Malang

Gandeng 4 Kiai NU, PT Raya Al-Madinah Gemilang Gelar Manasik Umrah Akbar di Malang

Erupsi Gunung Anak Krakatau, TransNusa Sesuaikan Sejumlah Penerbangan

Asep Kusdinar: Pemerintah Tak Cukup Bekerja dari Balik Meja

Ada Al-Qur’an Tua dari Aceh di Museum Panji Kota Malang, Pakai Kertas Eropa

Baderhoods Wonosobo Didorong Ikut Promosikan Wisata Lewat Touring

Bakorwil Malang Dampingi Gubernur Jatim Salurkan Air Bersih dan Pasar Murah di Blitar

Prev Next

POPULER MINGGU INI

Warga Gerebek Rumah di Kalianget Wonosobo, Seorang Pria Diamankan

IPNU-IPPNU Tambakrejo Gresik Santuni Anak Yatim, Tutup Rangkaian Kegiatan Ramadan

Pasar Bandeng Gresik 2026, Ikan Seberat 19 Kg Terjual Rp50 Juta, Ini Juaranya

Terlanjur Klik File APK Penipuan? Ini Langkah yang Disarankan BRI untuk Nasabah

Jelang Lebaran, BRI Ingatkan Nasabah Waspada Penipuan Modus File APK

  • Tentang Javasatu
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Siber
  • Kode Perilaku Perusahaan
  • Perlindungan Wartawan

© 2026 Javasatu. All Right Reserved

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

  • Home
  • Edusphere
  • Health On
  • Statecraft
  • Sportspace
  • Food Trip
  • Opinion

© 2026 Javasatu. All Right Reserved