JAVASATU.COM- Analis kebijakan publik dan politik nasional, Nasky Putra Tandjung, menilai pertemuan empat mata selama satu jam antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Jumat (24/4/2026), merupakan langkah strategis untuk memperkuat kohesi nasional di tengah dinamika geopolitik global dan tantangan domestik.

Menurut Nasky, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda antara kepala pemerintahan dan pimpinan institusi keamanan, melainkan memiliki makna kebangsaan yang mendalam, terutama dalam menjaga stabilitas keamanan nasional serta komitmen Polri terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejalan dengan visi Presiden.
“Pertemuan antara Presiden RI Prabowo dan Kapolri Listyo Sigit Prabowo mencerminkan semakin solidnya konsolidasi pemerintahan dalam menghadapi dinamika geopolitik global, termasuk tantangan domestik, demi menjaga stabilitas keamanan nasional agar program Asta Cita berjalan berkelanjutan untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara,” ujar Nasky dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (26/4/2026).
Dalam pertemuan tersebut, salah satu poin utama yang dibahas adalah komitmen Polri dalam meningkatkan profesionalisme personel. Transformasi ini mencakup proses rekrutmen yang transparan dan akuntabel hingga pelaksanaan tugas di lapangan.
Kapolri juga melaporkan perkembangan sejumlah program strategis, mulai dari penguatan transformasi digital layanan publik, peningkatan profesionalisme anggota sejak rekrutmen hingga masa kedinasan, serta upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat secara berkelanjutan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Selain itu, Polri juga menyampaikan dukungan terhadap program pemerintah, khususnya di sektor pertanian, pangan, makan bergizi gratis (MBG), hingga penanganan bencana.
Soliditas Keamanan Jadi Tanggung Jawab Bersama
Nasky yang merupakan alumnus INDEF School of Political Economy Jakarta menilai pertemuan antar pemimpin bangsa merupakan bagian dari tradisi dialog dan musyawarah yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila.
“Bangsa Indonesia memiliki Pancasila sebagai dasar komitmen dalam menjaga keutuhan NKRI. Pertemuan antara Presiden dan Kapolri ini selain sesuai kultur bangsa dalam berdialog dan bermusyawarah, juga ditujukan untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara,” tegasnya.
Ia menambahkan, kebersamaan elite nasional memberikan sinyal positif bagi masyarakat dan dunia internasional bahwa Indonesia berada dalam kondisi stabil.
“Ketika elite bangsa menunjukkan kebersamaan, itu memberi pesan positif bahwa Indonesia dalam kondisi stabil,” tambahnya.
Persatuan Kunci Hadapi Geopolitik Global
Lebih lanjut, penulis buku Polri Presisi tersebut menekankan bahwa ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah dan tekanan ekonomi dunia, menuntut Indonesia memiliki fondasi stabilitas keamanan yang kuat.
“Hubungan Presiden Prabowo dan Kapolri harus dipahami sebagai kekuatan strategis negara, yakni sinergi kepemimpinan untuk menjaga stabilitas keamanan agar pembangunan nasional berjalan kokoh dan berkelanjutan,” jelasnya.
Nasky menegaskan bahwa stabilitas keamanan menjadi prasyarat utama pembangunan nasional.
“Tidak ada pembangunan tanpa stabilitas keamanan. Tidak ada investasi tanpa kepastian hukum. Tidak ada distribusi pangan yang lancar tanpa ketertiban. Karena itu, hubungan Presiden dan Kapolri bukan pelengkap, melainkan episentrum yang menentukan arah kemajuan bangsa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kompleksitas tantangan yang dihadapi Indonesia, mulai dari gejolak ekonomi global, kejahatan digital, penyelundupan, narkotika, konflik sosial, hingga krisis kemanusiaan akibat bencana.
“Negara membutuhkan kepemimpinan yang tenang, institusi yang siap, dan koordinasi yang cepat. Keterlambatan negara sering kali dibayar mahal oleh rakyat kecil,” katanya.
Menurutnya, dukungan terhadap pemerintah dan Polri harus dibarengi dengan dorongan perbaikan berkelanjutan.
“Polri harus semakin PRESISI, penegakan hukum harus adil, transparansi harus nyata, dan pemerintah harus memastikan seluruh institusi bergerak dalam satu arah: keamanan, keadilan, dan kesejahteraan rakyat,” pungkasnya.
Di akhir keterangannya, Nasky mengajak seluruh elemen bangsa mendukung langkah strategis Presiden dan Kapolri dalam memperkuat persatuan nasional.
Ia menilai imbauan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi isu yang memecah belah merupakan strategi penting di tengah ketidakpastian geopolitik global.
“Stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat menjadi prasyarat mutlak agar Indonesia mampu menghadapi dampak konflik internasional,” ujarnya.
Nasky menegaskan bahwa semangat persatuan yang digaungkan Polri bukan sekadar simbol, melainkan kekuatan fundamental bangsa.
“Meskipun Indonesia beragam, tekad menjaga keutuhan NKRI harus tetap satu. Pembangunan nasional hanya dapat berjalan optimal jika seluruh elemen bangsa menghindari polarisasi dan menjaga kebersamaan,” tutupnya. (arf)