JAVASATU.COM- Pemilihan Calon Anggota DPKM (Dewan Pendidikan Kota Malang) Periode 2026–2030 pada Senin, 11 Mei 2026, menjadi momentum penting dalam menentukan arah pendidikan di Kota Malang sebagai salah satu kota pendidikan strategis di Indonesia.

Dalam dinamika pemilihan tersebut, nama Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, M.A. mendapat perhatian luas. Akademisi dan intelektual Muslim itu dinilai membawa gagasan pendidikan yang menekankan moderasi beragama, spiritualitas, serta nilai-nilai kemanusiaan.
Sebagai Guru Besar Ilmu Tasawuf di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Ahmad Barizi dikenal aktif mendorong pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan ruhani, akhlak, dan kesadaran sosial.
Ia menilai pendidikan di era modern harus mampu melahirkan manusia yang cerdas sekaligus memiliki kedalaman makna hidup. Menurutnya, Kota Malang sebagai kota pelajar dan kota wisata memiliki tanggung jawab besar menjaga harmoni sosial dan memperkuat moderasi beragama di tengah masyarakat yang majemuk.
Prof. Ahmad Barizi menegaskan bahwa menampik pentingnya moderasi beragama sama halnya dengan mengingkari identitas Kota Malang sebagai ruang perjumpaan berbagai budaya, agama, dan tradisi.
“Pendidikan hari ini tidak cukup hanya melahirkan manusia profesional dan unggul secara akademik. Yang lebih penting adalah bagaimana pendidikan membentuk manusia yang sadar akan amanah hidupnya sebagai khalifah dan Abdullah, memiliki cinta terhadap sesama, serta berakhlak terhadap alam dan kehidupan,” ungkapnya, Senin (11/5/2026).
Gagasan yang dibawanya menitikberatkan pada penguatan sistem pendidikan berbasis moderasi beragama. Hal itu mencakup pengembangan kurikulum, materi pembelajaran, proses pengajaran, hingga pendidikan dan rekrutmen guru yang memiliki wawasan toleransi dan kemanusiaan.
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya penyiaran agama yang menyejukkan, membangun perdamaian, dan membawa kemaslahatan umat. Dalam pandangannya, rumah ibadah tidak hanya menjadi pusat ritual keagamaan, tetapi juga pusat syiar agama yang toleran, ramah, dan memperkuat persatuan masyarakat.
Perhatian besar juga diberikan pada pemanfaatan ruang publik sebagai ruang dialog lintas budaya, lintas agama, dan lintas suku bangsa. Menurutnya, pelajar, mahasiswa, dan pemuda Kota Malang perlu memiliki ruang kreatif untuk bertukar gagasan dalam semangat kebangsaan dan persaudaraan.
Sebagai akademisi tasawuf, Prof. Ahmad Barizi turut membawa perspektif spiritual mengenai hubungan manusia dan alam. Ia memandang manusia dan alam sebagai manifestasi kebesaran Tuhan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.
Menurutnya, alam semesta diciptakan Allah dengan nilai dan tujuan, sehingga pendidikan harus mampu melahirkan kesadaran ekologis dan etika kehidupan.
“Kesadaran terhadap amanah hidup dan akhlak terhadap alam harus menjadi visi utama pendidikan. Dari sana akan lahir pribadi-pribadi unggul yang tidak hanya pintar, tetapi juga berintegritas,” tegasnya.
Kehadiran Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, M.A. dalam kontestasi pemilihan calon anggota DPKM dinilai membawa harapan baru bagi penguatan wajah pendidikan Kota Malang yang religius, inklusif, berbudaya, dan humanis.
Di tengah tantangan era digital dan krisis moral global, gagasan pendidikan berbasis spiritualitas dan moderasi dinilai menjadi kebutuhan mendesak untuk membangun generasi masa depan yang berilmu, berakhlak, serta mampu menjaga harmoni bangsa. (ery/arf)