JAVASATU.COM- Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian kalender hijriah. Lebih dari itu, Muharram merupakan momentum reflektif untuk membaca kembali tonggak sejarah besar yang menjadi fondasi lahirnya peradaban Islam. Hal tersebut disampaikan Guru Besar Ilmu Tasawuf UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, M.A., dalam kajiannya menyambut 1 Muharram 1448 Hijriah.

Menurut Prof. Ahmad Barizi, Muharram memiliki makna historis yang sangat mendalam karena menjadi penanda awal perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah. Peristiwa hijrah bukan hanya perpindahan geografis, melainkan transformasi besar yang melahirkan tatanan sosial, politik, dan budaya yang berkeadaban tinggi.
“Hijrah adalah titik awal pembangunan peradaban Islam. Dari Madinah lahir masyarakat yang berlandaskan keadilan, toleransi, dan penghormatan terhadap hukum. Inilah yang oleh Al-Farabi disebut sebagai al-Madinah al-Fadhilah atau negara utama,” ujarnya, Senin (14/6/2026).
Ia menjelaskan, makna hijrah pada era modern tidak cukup dipahami sebagai perpindahan tempat semata, tetapi juga perubahan cara berpikir, budaya kerja, dan sistem sosial. Jika pada masa awal Islam dakwah lebih bersifat personal dan ritual, maka tantangan umat saat ini adalah membangun institusi-institusi yang mampu menghadirkan kemaslahatan publik.
“Hijrah hari ini adalah keberanian keluar dari zona nyaman, meninggalkan korupsi, plagiarisme, budaya saling menjatuhkan, serta membangun sekolah, kampus, komunitas literasi, startup, dan civil society yang memberi dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Prof. Ahmad Barizi menilai, keberhasilan hijrah Nabi mencapai puncaknya melalui lahirnya Negara Madinah yang berdiri di atas prinsip konstitusional. Melalui Piagam Madinah, berbagai kelompok agama dan suku dapat hidup bersama dalam satu ikatan kebangsaan tanpa kehilangan identitas masing-masing.
Mengutip pemikiran almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur), ia menyebut bahwa nilai-nilai Pancasila memiliki kedekatan substansial dengan semangat Piagam Madinah. Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan menjadi fondasi kehidupan berbangsa yang relevan sepanjang zaman.
Sebagai akademisi yang menekuni bidang tasawuf, Prof. Ahmad Barizi juga mengingatkan bahwa hijrah sejati dimulai dari transformasi batin. Menurutnya, para sufi memaknai hijrah sebagai perpindahan dari dominasi hawa nafsu menuju kecintaan kepada Allah SWT.
“Hijrah bukan sekadar perubahan penampilan, tetapi perubahan isi hati. Dari gelapnya cinta dunia menuju terang cahaya tauhid. Dari ambisi yang tidak sehat menuju keikhlasan dan kebenaran,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pesan para tokoh sufi seperti Junaid al-Baghdadi sangat relevan untuk kehidupan modern. Demokrasi, misalnya, tidak boleh berhenti pada aspek prosedural semata, tetapi harus menghadirkan nilai-nilai substantif berupa kejujuran, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Di era digital saat ini, Prof. Ahmad Barizi memaknai hijrah sebagai proses rebranding total, baik pada aspek pribadi, pola pikir, maupun sistem sosial yang dibangun bersama. Karena itu, momentum Muharram perlu dijadikan titik awal perubahan menuju Indonesia yang lebih maju, adil, dan beradab.
Selain itu, ia mengajak umat Islam untuk memuliakan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat bulan haram yang disebutkan dalam Al-Qur’an, bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Pada bulan yang dimuliakan tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal saleh, termasuk melaksanakan puasa sunnah pada tanggal 1, 9, dan 10 Muharam.
“Muharram adalah bulan kemuliaan sekaligus bulan perubahan. Semoga semangat hijrah yang diwariskan Nabi Muhammad SAW mampu menginspirasi lahirnya peradaban yang lebih berkeadilan, bermartabat, dan membawa rahmat bagi seluruh bangsa,” pungkasnya. (ery/nuh)