
OPINI
MCC Bukan Beban APBD, Tapi Mesin Masa Depan Kota Kreatif Dunia
Oleh: Vicky Arief Herinadharma, Praktisi Ekonomi Kreatif | Ketua Harian ICCN
Di tengah wacana pengelolaan Malang Creative Center (MCC), muncul kecenderungan yang perlu dikritisi: cara pandang yang menempatkan MCC semata sebagai beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Pendekatan ini berisiko mereduksi peran MCC hanya sebagai “aset yang harus menghasilkan”, bukan sebagai infrastruktur strategis bagi masa depan kota kreatif.
Padahal, dalam konteks global, terutama dalam ekosistem UNESCO Creative Cities Network, creative hub seperti MCC tidak pernah didesain sebagai cost center, melainkan sebagai value generator: penghasil nilai ekonomi, sosial, budaya, hingga diplomasi.
Kesalahan Cara Pandang: Dari Cost Center ke Creative Engine
Jika MCC hanya diukur dari kontribusi langsung terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), maka pendekatan yang digunakan masih berbasis logika industri konvensional.
Ekonomi kreatif bekerja secara non-linear, melalui:
- penciptaan ide
- produksi karya
- distribusi konten
- monetisasi berbasis Intellectual Property (IP)
Artinya, output MCC tidak semata “uang masuk ke kas daerah”, melainkan:
- lahirnya startup kreatif
- tumbuhnya pelaku industri baru
- terciptanya karya dan IP lokal
- meningkatnya daya saing kota di tingkat nasional dan global
Dengan demikian, MCC adalah investasi jangka panjang, bukan beban jangka pendek.
BLUD: Solusi atau Sekadar Perubahan Status?
Dorongan menjadikan MCC sebagai Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) merupakan langkah administratif yang tepat. Skema ini memberi fleksibilitas pengelolaan, efisiensi operasional, serta ruang inovasi.
Namun, terdapat catatan penting:
BLUD bukan solusi jika tidak disertai model bisnis yang jelas.
Tanpa business model yang kuat, MCC berpotensi terjebak menjadi:
- sekadar penyedia sewa ruang
- event organizer pemerintah
- atau tetap bergantung pada APBD dengan label baru
Hal tersebut bukan transformasi, melainkan sekadar perubahan nomenklatur.
MCC Harus Menjadi Platform, Bukan Sekadar Gedung
Ke depan, MCC perlu diposisikan sebagai Creative Economy Operating System—platform yang mengintegrasikan:
- talenta (creator, artist, developer)
- produksi (studio, media art, konten)
- distribusi (festival, platform digital, market)
- monetisasi (IP, lisensi, kolaborasi industri)
Dalam kerangka ini, MCC menjadi:
- simpul ekosistem (node)
- penghubung hexahelix (pemerintah, komunitas, bisnis, akademisi, media, aggregator)
- mesin orkestrasi ekonomi kreatif kota
Belajar dari Kota Kreatif Dunia
Kota-kota dalam jaringan UNESCO Creative Cities Network tidak menjadikan creative hub sebagai sumber PAD langsung.
Sebaliknya, mereka:
- membangun ekosistem
- memperkuat talent pipeline
- mendorong kolaborasi industri
- memonetisasi melalui IP, investasi, dan pasar global
Dampaknya terlihat pada:
- peningkatan ekonomi kota
- pertumbuhan lapangan kerja
- serta reputasi global
Arah Kebijakan yang Dibutuhkan
Jika MCC diarahkan menjadi BLUD, maka legislatif dan eksekutif perlu memastikan tiga hal utama:
1. Desain Model Bisnis yang Jelas
- Revenue stream berbasis ekosistem, bukan sekadar sewa ruang
- Inkubasi dan akselerasi startup, UMKM, serta pelaku ekonomi kreatif
- Kolaborasi industri dan sponsorship
- Monetisasi IP dan konten
2. Governance Kolaboratif (Hexahelix)
Pengelolaan MCC tidak boleh top-down.
Komunitas dan pelaku industri harus menjadi co-creator, bukan sekadar pengguna.
3. Indikator Kinerja yang Tepat
Evaluasi tidak cukup berdasarkan:
- jumlah event
- pendapatan langsung
Tetapi harus mencakup:
- jumlah talenta yang tumbuh
- jumlah usaha kreatif yang lahir
- nilai transaksi ekonomi kreatif
- dampak terhadap branding kota
Momentum Menentukan Arah
Saat ini adalah momentum penting untuk menentukan arah MCC.
Apakah akan menjadi sekadar unit layanan dengan tekanan untuk “menghasilkan uang”?
Atau menjadi mesin penggerak ekonomi kreatif Kota Malang di tingkat global?
Pilihan tersebut tidak ditentukan oleh status BLUD semata, melainkan oleh cara pandang dan desain kebijakan yang dibangun.
Karena pada akhirnya, kota kreatif tidak dibangun dari gedung, melainkan dari visi, ekosistem, dan keberanian untuk melampaui logika birokrasi. (*)