JAVASATU.COM- Momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) 2026 dinilai tidak cukup hanya diperingati secara seremonial. Guru Besar Ilmu Tasawuf Prof. Dr. H. Ahmad Barizi, M.A menegaskan bahwa tema “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara” harus dimaknai sebagai panggilan besar untuk menyelamatkan generasi muda melalui pendidikan yang berpijak pada nilai agama, budaya, dan moral bangsa.

Menurutnya, menjaga generasi tidak akan efektif tanpa sistem pendidikan yang benar-benar membentuk karakter dan kesadaran kebangsaan. Di tengah derasnya arus globalisasi, orientasi pendidikan dinilai semakin pragmatis dan kerap mengabaikan dimensi kemanusiaan serta spiritualitas.
“Pertanyaannya, apakah sistem dan model pendidikan kita hari ini sudah benar-benar sesuai dengan nilai agama, budaya, dan moral bangsa? Di tengah persaingan global, pendidikan kita perlu redefinisi agar tetap relevan sekaligus mampu menjawab persoalan dunia modern,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang itu menilai kampus sejatinya merupakan ruang lahirnya kaum intelektual yang kritis terhadap dogma dan ketidakadilan sosial. Mengacu pada pemikiran Plato tentang academicus, kampus tidak boleh kehilangan identitasnya sebagai pusat dialektika dan kesadaran peradaban.
“Harkitnas harus menjadi momentum membongkar bentuk-bentuk kolonialisme baru, baik kolonialisme pemikiran, budaya, ekonomi, maupun digital. Karena itu mahasiswa dan akademisi harus kritis, tetapi juga kuat dalam literasi dan moralitas,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa sejarah kebangkitan nasional lahir dari rahim kaum terpelajar. Tokoh-tokoh seperti dr. Wahidin Soedirohoesodo, dr. Soetomo, Ki Hajar Dewantara, dr. Tjipto Mangunkusumo, hingga Douwes Dekker merupakan representasi generasi kampus yang menjadikan pendidikan sebagai alat perjuangan bangsa.
Namun, ia juga menyoroti fenomena kampus yang mulai kehilangan daya kritis. Diskursus akademik mengenai persoalan nasional dan global dinilai semakin redup, mulai dari isu lapangan kerja, krisis ekonomi, hingga konflik antarnegara.
“Forum akademik jangan sampai kehilangan sensitivitas sosial. Kampus tidak boleh mandul dari realitas. Critical thinking adalah ruh kebangkitan nasional,” tegasnya.
Dalam perspektif tasawuf, Prof Barizi menjelaskan bahwa kebangkitan nasional sejati bukan hanya soal pembangunan fisik dan teknologi, tetapi juga pembangunan jiwa. Tasawuf mengajarkan kejernihan hati, pengendalian nafsu, kejujuran, serta tanggung jawab moral terhadap bangsa dan kemanusiaan.
“Bangsa ini selain membutuhkan generasi cerdas, juga generasi yang memiliki adab, spiritualitas, dan cinta tanah air. Karena krisis terbesar hari ini bukan sekadar krisis ilmu, melainkan krisis makna dan keteladanan,” pungkasnya.
Melalui semangat Harkitnas 2026, ia berharap kampus kembali menjadi lokus lahirnya generasi pembaru yang mampu menjaga identitas bangsa sekaligus membawa Indonesia berdaulat di tengah percaturan global. (ery/arf)