JAVASATU.COM- Wacana penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, dinilai memiliki dasar historis yang kuat. Lokasi tersebut dianggap layak karena menjadi salah satu pusat lahirnya gagasan, konsolidasi, dan perjuangan para pendiri NU.

Ketua PC Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPPNU) Gresik, Jaroddin, menyebut penetapan lokasi Muktamar sepatutnya mempertimbangkan nilai kesejarahan organisasi.
Menurutnya, Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas memenuhi kriteria tersebut karena memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai salah satu pendiri NU.
“Apabila salah satu pertimbangan penetapan lokasi Muktamar Nahdlatul Ulama adalah nilai kesejarahan organisasi, maka Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas merupakan pilihan yang sangat tepat dan memiliki legitimasi historis yang kuat,” kata Jaroddin, Kamis (9/7/2026).
Jombang dikenal sebagai salah satu daerah yang menjadi pusat lahirnya Nahdlatul Ulama. Di wilayah ini berdiri dua pesantren yang memiliki peran besar dalam sejarah organisasi, yakni Pesantren Tebuireng yang diasuh Hadhratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas yang menjadi basis perjuangan KH Abdul Wahab Hasbullah.
“Dari kedua tokoh inilah lahir perpaduan kepemimpinan ulama, kekuatan pemikiran, dan strategi organisasi yang kemudian melahirkan Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926,” ujarnya.
Jaroddin menjelaskan, sebelum NU berdiri, KH Abdul Wahab Hasbullah telah menggagas sejumlah organisasi yang menjadi fondasi perjuangan umat. Di antaranya Nahdlatul Wathan pada 1916 untuk membangkitkan pendidikan dan nasionalisme santri, Nahdlatut Tujjar pada 1918 sebagai gerakan pemberdayaan ekonomi umat, serta Tashwirul Afkar pada 1919 sebagai ruang diskusi intelektual ulama dan kaum muda.
Puncak perjuangan tersebut, lanjutnya, ditandai dengan pembentukan Komite Hijaz pada 1926. Komite itu memperjuangkan aspirasi ulama Nusantara kepada Raja Arab Saudi agar kebebasan menjalankan ajaran empat mazhab Ahlussunnah wal Jamaah tetap terjamin serta situs-situs bersejarah Islam tetap dihormati.
“Momentum Komite Hijaz inilah yang kemudian menjadi salah satu tonggak lahirnya Nahdlatul Ulama sebagai wadah perjuangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya.
Setelah NU berdiri, KH Abdul Wahab Hasbullah disebut terus memperkuat organisasi melalui konsolidasi kepengurusan di berbagai daerah, kaderisasi yang melahirkan Gerakan Pemuda Ansor, hingga aktif mengobarkan semangat kebangsaan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Ia juga bersama KH Hasyim Asy’ari dan para ulama lainnya berperan dalam lahirnya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang menjadi salah satu tonggak perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah wafatnya KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Hasbullah dipercaya menjadi Rais ‘Aam PBNU dan memimpin organisasi pada masa revolusi hingga awal pembangunan bangsa.
“Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas bukan hanya menjadi saksi perjalanan KH Abdul Wahab Hasbullah, tetapi juga merupakan salah satu pusat lahirnya gagasan, konsolidasi, dan gerakan Nahdlatul Ulama,” tutur Jaroddin.
Atas dasar itu, Jaroddin menilai penyelenggaraan Muktamar NU ke-35 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas tidak hanya relevan secara geografis, tetapi juga memiliki makna historis, simbolis, dan ideologis bagi organisasi.
“Muktamar di Tambakberas akan menjadi bentuk penghormatan terhadap mata rantai sejarah perjuangan para muassis, sekaligus mengingatkan kembali bahwa NU dibangun di atas perpaduan ilmu, perjuangan, persatuan ulama, serta pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara,” pungkasnya. (hoo/arf)